Day 27 (Amplop)

DAY 26 (AMPLOP)
*
*
*

@lutfiyan28
@lisa_pingge
@ivieth_mutia
@komunitas.odop
@emakguru_

#rwcodop2019
#onedayonepost
#day27
#komunitasodop

R E U N I
Bag 2 (end)

Kupatut bayanganku di cermin. Melihat dari segala sisi. Ini bajuku saat masa kuliah dulu. Nggak percaya, ternyata masih muat aku pakai.

"Kenapa nggak pakai baju yang barusan dibelikan ayah aja sih bun? Itukan baju lama". Suamiku tiba-tiba muncul di belakangku. Ikut mengamati penampilanku.

"Nggak papa yah, bunda lagi pengen pakai baju ini. Masih bagus juga kok. Baju dari ayah buat nikahannya Erina aja". Erina adalah sepupu suamiku.

"Ayah beneran nggak ikut reuni bunda?" aku memastikan keputusannya sekali lagi.

"Fix bun... Ayah mumpung lagi free pengen main sama anak-anak. Jarang-jarang kan?" aku tersenyum. Suamiku ini memang paling top markotop deh.

"Mau dianter ayah nggak?" tawarnya sambil memelukku dari belakang saat aku memasang hijap persegi ku.

"Bunda pakai ojek online aja deh. Takutnya pas ayah anter bunda, Syeima bangun". Syeima anak ketiga kami masih berumur 3 tahun. Dan dia sudah terlelap meskipun baru jam 7 sore.

Suamiku mengeluarkan amplop panjang berwarna coklat dan menyerahkannya padaku.

"Apa ini yah?"

"Itu buat bunda... Jangan terlalu irit. Sekali-kali memanjakan diri. Mumpung momennya pas". Aku terbelalak melihat isinya.

"Banyak banget ayah...ini uang apa?"
Suamiku mendekat. Membalik tubuhku dan memelukku dari belakang lagi menghadap cermin.

"Itu uang bonus ayah. Tenang saja, sudah ayah sisihkan buat tabungan". Suamiku seorang manajer programmer perusahaan properti. Dan memang sering dapat bonus saat di sela waktunya dia bisa membuat sebuah program aplikasi pengembangan untuk perusahaannya. Seringnya, bonus yang dia dapat jauh lebih besar dari gajinya.

"Terimakasih suamiku....ayah is always the best lah pokoknya" aku mengecup pipinya dan beranjak keluar kamar.

"Bunda berangkat dulu ah...takut telat. Belum pesen grab juga"

"Tuh...mobilnya udah nunggu di luar. Ayah udah pesenin" aku berseru senang. Suamiku ini penuh dengan kejutan

"Aku berbalik lagi dan berlari menuju suamiku. Mencium tangannya dan berlari lagi ke luar rumah" dia terkekeh melihat tingkahku.

***

Sampai di tempat, aku merasa kikuk. Takut tak mengenali teman-temanku.
Caffe sudah dipenuhi pengunjung. Tak satupun aku mengenalnya. Maklum aku masuk grup whatsapp baru tiga hari yang lalu dan mendapat undangan reuni ini.

Siapa yang aku harus temui ya?

"Ini Tiwi ya?" aku menoleh, seorang pria mengulurkan tangannya mengajakku bersalaman. Wajahnya samar karena penerangan caffe yang temaram.

Aku memicingkan mata. Mencoba menamatkan wajah seseorang di depanku.

"Aku Willy, dari kelas sebelah kelasmu, ingat?". Aku mencoba mengingat. Mengulang kenanganku di 14 tahun yang lalu. Aku berdegup tiba-tiba. Sosok pria di depanku mulai menyibak kenanganku beramaan dengan cahaya lampu yang mulai terang menerpa wajahnya. Hatiku serasa loncat dari tempatnya. Pria ini. Cinta monyetku yang begitu berkesan.

Aku menjabat tangannya dengan kuat menghilangkan rasa kagetku dan grogiku bertemu dia.

"Hi... Wil. Apa kabar?" ingin rasanya aku pira-pura lupa siapa Willy. Tapi rasanya kok aneh.

"Apa kabar Wi? Udah punya anak berapa?" tanyanya to the point.

"Anakku udah 3, kamu?". Dia mengajakku duduk di kursi terdekat dan mulai memesan menu. Aku celingukan. Mana yang lain ya?

"Anakku baru satu" katanya kemudian. Aku ber 'ooh' sembari tetap mencari teman-teman yang lain.

"Mana yang lain sih?"

"Udah pada datang kok, mungkin masih asik ngobrol sambil menunggu acaranya di buka" jawabnya santai.

"Ini semua teman se SMP ya? Kok aku nggak ada yang kenal ya?" aku meringis.

"Nggak semua pengunjung alumni kita. Ada beberapa pengunjung lain kayaknya. Kamu baru kali ini ya ikut reuni alumni?" aku mengangguk sembari menyesap lemon tea yang aku pesan tadi. Dari balik sedotan, aku mencuri pandang ke Willy. 

Mata itu masih sama, mata elang yang disempurnakan dengan hidung bangir yang mempesona. Mungkin sekarang perawakannya lebih dewasa dan berisi. Tapi tetap menarik bagi siapa saja yang melihatnya. Aku istighfar. Ingat suamiku yang sedang ada di rumah.

Tiba-tiba dia mengeluarkan amplop berwarna biru. Bergambar dua sejoli yang dan dilengkapi dengan tulisan bersajak cinta  yang ditulis dengan bahasa inggris. Amplop jaman dulu.

"Masih ingat amplop ini?" aku menggeleng cepat. Menamatkan amplop di depanku.

"Ini punyamu. Kamu menuliskannya untukku saat sekolah dulu. Remember?"
Aku berjingkat. Kenangan itu serasa terulang di kepalaku.

Aku mengambilnya. Kemudian dengan ragu kukeluarkan isinya dan membaca surat di dalamnya.

Untuk Willy.
Hai Wil. maaf mengganggu mu. Aku adalah gadis yang mengagumimu. Yang tak akan pernah kamu tahu, aku cukup bahagia hanya melihatmu, cukup damai hanya dengan mendengar tawamu. Kau tak perlu tahu siapa aku. Aku hanya ingin mengungkapkan perasaan ini agar tidak pecah dadaku. Meskipun aku tidak ingin kamu tahu, karena aku tahu kamu sudah sama Dewi. Dan siapa lah aku, hanya gadis udik yang tak memikatmu. Semoga kamu selalu bahagia.

Dari aku, yang mencintaimu diam-diam

Kututup surat itu dengan tangan bergetar. Menutupi rasa maluku yang tak bisa kutahan.

"Bagaimana kau tahu itu aku?" elakku. Padahal aku tak pernah menunjukkan perasaanku, aku juga sangat rapi memendam perasaan saat itu. Tak seorangpun mengetahuinya.

"Aku melihatmu saat itu. Saat kamu meletakkan surat pertama dan terakhirmu di lokerku". Aku berdehem mengusir kekakuanku.

"Aku dari awal tahu. Aku menantikan surat darimu lagi. Tapi tak pernah ada. Aku menyukai tulisanmu yang begitu tulus. Tapi begitu gengsi mengakuinya. Aku terlalu sayang melepaskan Dewi karena dialah primadona sekolah waktu itu". Dia menunduk. Ada penyesalan terlihat.

"Maafkan aku...." lanjutnya

"Kenapa harus minta maaf? Aku malah merasa malu sekarang. Hehhe... Tapi itukan masa lalu. Sekarang kita sudah bahagia dengan keluarga kita masing-masing. Itukan cinta monyet". Aku mencoba mencairkan kekakuan di antara kami.

"Tapi...aku...". Perkataannya terputus ketika terdengar suara menggelegar dari podium caffe yang mengintruksikan kami, alumni SMP 3 Bogor berkumpul di meja besar yang sudah dipesan khusus untuk kami.

Aku beranjak, mengajaknya ikut bergabung dalam komunitas. Dia berdiri sambil meraih amplop biru itu kemudian meremasnya. Aku melihatnya. Tapi aku pura-pura tak melihatnya.

***

Aku sampai rumah pukul 23.12 WIB. Sungguh melelahkan. Kudapati suamiku memeluk Syeima anak ketiga kami di kamarnya. Kemudian kudapati anak pertamaku Dito, di kamarnya sedang terlelap sambil mendekap sepatu roda bergambar spiderman yang baru dibelikan ayahnya. Kulanjutkan membuka kamar ketiga, anak keduaku yang cantik, kami memberinya nama Cantika. Sedang tidur tengkurap dengan sebuah buku di atas bantal yang tak dipakainya. Dia hoby membaca.

Ah... aku bersyukur memiliki keluarga ini. Aku tak akan pernah berpaling hanya karena cinta monyet ku saat SMP. Sambil berjalan menuju kamarku, aku berdoa semoga keluargaku dilanggengkan sampai maut memisahkan.

Gawaiku berbunyi. Sebuah pesan pribadi tanpa nama terkirim.

"Hai Tiwi...ini aku Willy.." oh.  Yang mengirimku pesan beberapa hari yang lalu ternyata Willy.

"Terimakasih atas pertemuan tadi. Aku ingin banyak ngobrol sama kamu sebenarnya. Tapi malam ini belum saat yang tepat sepertinya.

Aku memiliki satu anak. Aku sudah bercerai dengan istriku. Kami tidak cocok. Mungkin semua karena salahku. Aku belum bisa move on dari cintaku sebelumnya.

Tiwi...
Setelah aku menerima suratmu saat SMP dulu. Aku berulang kali membacanya, sampai aku menghafal semua apa yang kamu tulis di sana. Sampai kita lulus dan meneruskan di SMA masing-masing, aku begitu stress tak menemukan keberadaanmu. Aku telat jatuh cinta pada penulisnya. Kamu tak akan pernah bisa bayangkan bagaimana aku mencarimu seperti orang gila. Hingga sebuah kabar mengatakan kamu pindah kota di sebuah kota kecil di Jawa Timur.
Kau tahu...aku sempat ke Surabaya hanya untuk mencarimu. Aku mengutuki mengapa waktu itu belum ada handphone canggih yang bisa dengan mudah melacakmu.

Di masa kuliah, aku belum bisa melupakanmu, padahal aku tak punya kenangan apapun tentangmu. Rasa ini begitu menyiksa, hingga akhirnya dengan frustasi aku menikahi gadis dengan nama yang sama seperti namamu. Tiwi.

Kemudian aku mendengar kabar, kamu kembali ke Bogor bersama keluarga barumu. Aku bahagia luar biasa. Betapa kerinduan ini sudah lama terpendam. Ingin sekali aku melihatmu. Sekedar menyapamu. Kemudian kau hadir di acara reuni. Ternyata aku tak sanggup jika hanya sekedar menyapamu. Aku ingin mengutarakan semua. Biar tak pecah dadaku. Seperti yang kau katakan.

Tiwi.... Maafkan aku harus seperti ini. Aku berdoa kebahagiaanmu bersama keluargamu. Maafkan aku yang tak bisa melupakanmu.

Dari aku, yang mencintaimu dengan diam
Willy Bayangkara"

Aku terdiam. Menikmati tetesan demi tetesan air mata yang berjatuhan.

Cinta memang kadang begitu kejam. Membiarkan seorang pria bertahun-tahun menahan cintanya.

Ingin rasanya aku membalas. Berlari menemuinya. Tapi aku masih waras. Kucoba menghilangkan bayangan Willy kemudian kugantikan dengan senyum suamiku yang selalu mencintaiku, anak-anak terbaik ku.

Dengan sadar ku klik grup alumni SMP, kemudian aku keluar dari grup. Memblockir satu kontak yang baru saja membuatku tergugu dengan kesedian yang teramat sangat.

"Eh...bunda kapan pulang?" aku tersenyum melihat suamiku di ambang pintu.

"Loh...kok nangis?" kemudian aku berlari memeluknya. Menyalurkan kesedian yang diciptakan pria itu.

"Jangan pernah bosan mencintai bunda ya yah... karena dengan cinta ayah, bunda akan kuat menghadapi badai apapun". Suamiku mengelus kepalaku.

"Habis ketemu mantan ya?" candanya. Aku memukul bahunya pelan. Menghilangkan kegelisahan di hati.

'Aku akan menceritakannya padamu ayah... Aku pasti akan menceritakannya'
Janjiku dalam hati

SELESAI

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Noda Pada Gadis Kecil Itu

Menulis adalah duniaku

Wisuda ODOP