Day 28 petasan
@lutfiyan28
@lisa_pingge
@ivieth_mutia
@komunitas.odop
@emakguru_
#rwcodop2019
#onedayonepost
#day28
#komunitasodop
PETASAN MEMBAW celaka.
Di Madura tempat bulikku tinggal ada tradisi membuat petasan di daerahnya. Siapa bisa membuat petasan paling besar bisa akan mendapat kebanggaan tak terkira. Orang itu akan mendapat pujian dari berbagai kalangan. Di sana orang masih haus dengan pujian.
Saat itu aku masih duduk di bangku SMP. Tahun 2000-an. Aku sedang berlibur di madura setengah bulan. Ikut sepupuku di sana. Karena tergiur oleh cerita adik sepupuku yang umurnya lebih tua dua tahun dariku, bahwa rumahnya dekat sekali dengan pantai dan pelabuhan, dekat dengar TPI. Tahulah...aku suka makan ikan, jadi aku ingin puas makan berbagai jenis ikan di sana.
Saat itu bulan Ramadhan. Saat sore menjelang sudah mulai terdengar suara petasan bersahutan. Dan tak satupun kudengar suara petasan yang kecil seperti di daerah tempatku tinggal. Semua suara menggelegar. Seperti bom Hiroshima Nagasaki.
Bulik bilang minimal besar petasannya bulat seukuran mangkok baso. Bahkan ada yang bikin petasan seukuran bola basket. Aku ngeri mendengarnya.
Makanya penduduk Di sana harus menyalakan petasan mereka di lapangan atau alam terbuka yang jauh dari pemukiman. Karena saat diledakkan denga cara dibanting, ledakannya seperti bom. Semua orang yang melihat dilarang mendekat di radius 4-7 meter. saat festival mercon atau petasan diadakan, semua orang harus menjauh. Yang membatingnyapun harus dari jarak jauh. karena beresiko tinggi.
Suatu siang, saat aku duduk santai bersama bulik, paklik dan kedua sepupuku terdengar sebuah ledakan sangat besar disertai getaran yang terasa sampai rumah bulik. Kami semua terkejut mendengarnya. Inikan bukan saat menyalakan petasan? Kami mengira gunung meletus. Karena seperti itulah suaranya.
Aku takut sekali waktu itu. Hingga akhirnya kami tahu. Itu adalah suara petasan yang meletus dari tetangga bulik dari radius 7-10 km. Seorang pemuda ingin memenangkan festival dengan membuat petasan berukuran ember berukuran paling besar.
Saat proses pelapisan dengan kertas, karena terlalu besar mercon atau petasan itu, tangannya tidak bisa menahannya dengan baik. Merconnya terlepas dari pegangannya, dan meletus karena jatuh dari tangannya tadi. tergelincir. Jadi karena seperti dihantam di lantai, petasan berukuran raksasa itu meletus. Si pembuatnya meninggal. Rumahnya hancur, dua rumah tetangganya ikut dampak hancur. Petasan membawa maut.
Mungkin sejak itu aparat polisi memutuskan untuk melarang menyalakan petasan yang terlalu berbahaya.
Apa pesan moral di sini? Jangan main petasan. Heheh...
#Note: sudah ah. Ngantuk...
Komentar
Posting Komentar