NAD Day 5

#30HariMenulis2019_hari_5
#tema_Eavesdropper
#nomer127
#391words

Tema: Eavesdropper
“Tulislah mengenai percakapan yang pernah tak sengaja Anda dengar.”

Bingung juga mau nulis apa di tema ini. Karena aku tuh jarang nguping obrolan orang, atau perduli dengan obrolan orang. Kalaupun pernah dengar obrolan orang, aku jarang perduliin, jarang mikirin jadinya ya lupa. Heheh...

Tapi, oke lah... Aku mencoba mengingat satu percakapan yang ga sengaja aku dengar.

Aku pernah mendengar percakapan seorang wanita dengan suaminya.

"Piye penggalihmu, bu?"
(Bagaimana menurutmu, bu?)

"Dalem nderek Bapak, yen niku sampun dados ketetapan Gusti Allah, dalem nderek Bapak"
(Saya ikut Bapak, jika itu sudah jadi ketetapan Tuhan, saya ikut Bapak)

Kemudian aku pergi, tak berani mendengarkan percakapan mereka lebih lanjut. Karena percakapan itu terlampau serius.

Sekitar sebulan kemudian, aku mendengar Sang Suami memperistri wanita lain. Yang melamarkan adalah sang istri, yang mempersiapkan segala keperluan lamaran juga pernikahan adalah istrinya yang luar biasa itu.

Kemudian aku mencoba flashback, mungkin percakapan yang aku dengar itu adalah tentang keputusan besar ini. Bahwa ada sebuah dilema suami harus memperistri wanita lain, karena suatu hal yang tidak aku atau orang lain ketahui. Hanya mereka yang tahu.

Tapi kelapangan sang istri menerima madu suaminya adalah ketegaran dan keikhlasan yang tak bisa diukur dengan apapun.

Keikhlasan memang susah mengukurnya. Sangat mudah diucapkan tapi begitu sulit mempraktikkannya. Keikhlasan masalah hati, hanya pelakunya saja yang bisa merasakannya meskipun sekitarnya menangkap auranya.

Perempuan manapun tak akan sanggup mengikhlaskan suaminya untuk wanita lain. Hanya perempuan hebat yang dengan hati tegar dapat menerima dan percaya sang suami.

Mentafakuri kisah ini, aku berderai air mata. Mencoba memposisikan diriku berada pada posisi wanita hebat ini. Dan tiba-tiba hatiku sesak, mataku berkaca dan aku menggeleng tak sanggup walau hanya dengan membayangkannya saja.

"Keinginanku hanya ingin selamat di akhirat nanti dek, jika ini kehendak Tuhan untuk ladang aku belajar ikhlas, belajar menghilangkan ego, belajar menghilangkan ke-aku-anku, aku siap untuk belajar. Aku percaya Bapak akan adil dan ngerekso aku dan dia (istri kedua)".

Begitu jawaban istri saat pada suatu waktu kami sempat ngobrol.

Tak ada kata yang sanggup keluar. Hanya tangisan dan pelukan untuknya. Pelukan untuk bisa tertular jiwa besarnya, kesabarannya dan keikhlasannya.

Inilah kisah nyata yang sedang aku pelajari dari kisah rumah tangga seorang yang luar biasa hebat yang pernah aku temui di dunia. Suami yang agung dan istri yang luar biasa pula.

Suatu saat, aku berjanji akan menuliskan kisahnya dalam sebuah buku yang hanya orang hebat yang bisa membacanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Noda Pada Gadis Kecil Itu

Menulis adalah duniaku

Wisuda ODOP