Bu Lia
Part 16
"Dunia ini dipenuhi dengan orang-orang
baik. Jika kamu tidak dapat menemukannya, jadilah salah satunya."
__Anonim
______
Berdiskusi
dengan Vio memang seru. Pengetahuannya luas. Banyak hal baru bisa aku tahu
darinya. Dia memang suka membaca. Tempat favoritnya
adalah perpustakaan dan kantin. Katanya kantin sudah seperti rumah ke dua
baginya. Benar saja, kan orang tuanya di sana tiap pagi. Aneh-aneh saja.
Ngobrol dengan orang yang suka membaca itu
asik. Aku merasakan itu sejak kenal Bu Lia. Dan sekarang Violetta. Pembaca yang
baik adalah pendengar yang baik. Dia akan dengan serius mendengarkan siapa saja
yang bicara, tanpa menyela, tanpa mengunggulkan apa yang sudah dia tahu.
Pembaca yang baik selalu haus wawasan. Begitulah Bu Lia dan Vio. Menyadari itu,
aku belajar mulai suka membaca.
Ayah, Ibu, dan Doni heran dengan kebiasaan
baruku berdiam diri di rumah dengan buku-buku yang taka da habisnya. Buku ayah
sudah habis kulahap.
Setiap hari berdiskusi dengan Vio tentang
projek kami membuatku semakin ingin tahu banyak hal. Mengapa sekarang aku
merasakan setiap hal di dunia itu seru dan menyenangkan.
Bu Lia pernah berkata bahwa ilmu
pengetahuan yang ditahu manusia di bumi ini hanya seperti satu tetes air yang
diambil dari laut. Dan bentangan air yang ada di laut itu adalah ilmu
pengetahuan yang belum ditahu manusia.
Waktu itu aku hanya sambil lalu
mendengarnya, dan sekarang aku mbenarkan apa yang Bu Lia pernah ucap.
Aku menghela nafas berat, bayangan Bu Lia tiba-tiba
datang dengan senyumnya. Ada yang tiba-tiba sakit di dada. Kugelengkan kepala,
mengusir bayangan wanita itu. Dan kembali menyimak apa yang disampaikan Vio.
Karya
ilmiah yang kami kerjakan sebagian besar adalah ide dari Vio. Tentang sebuah cara sederhana pendauran ulang sampah organik.
"Lo
kok bisa kepikiran tentang teknologi Felita?"
Felita
adalah teknologi pendaur ulangan sampah rumah tangga. Dari istilah Fermentasi
Limbah Rumah Tangga yang kemudian disingkat menjadi Felita.
Limbah
rumah tangga yang sering menimbulkan bau itu diolah sendiri yang kemudian bisa
bermanfaat bagi lingkungan karena Felita akan menghasilkan dua produk: Pupuk cair organik dan
padatan limbah yang bisa digunakan sebagai campuran media tanam yang sangat baik untuk kesuburan tanah.
Kami
mempraktikkan teknologi itu pada sampah organik yang ada di kantin, kebetulan
pengelola kantin adalah orang tua Vio jadi mempermudah kami untuk mengamatinya sewaktu-waktu.
Sebuah
wadah plastik berukuran 25 liter yang di bagian bawahnya ada pembatas yang sudah kami lubangi. Sampah organic akan di masukkan di wadah kemudian
diberikan activator yang berupa bakteri baik yang akan memproses limbah organic
itu. Prosesnya sama seperti pembuatan tape. Dari sampah yang terurai oleh
bakteri itu aka nada cairan yang menetes ke lapisan paling bawah yang sudah dibatasi
lempengan plastic yang sudah berlubang.
Cairan itu yang akan digunakan untuk pupuk organic.
"Gue mengenal Felita dari teman tante
gue yang anggota Komunitas Lingkungan Hidup. Ini memang sederhana, tapi berdampak
luar biasa bagi pelakunya."
Aku masih menyimak apa yang disampaikan
Vio.
"Awalnya gue sedih dengan limbah bekas
makan kita yang sering dibuang di tempat sampah karena itu menimbulkan bau yang
tidak sedap, dan lagi pula 1 kg limbah organik di TPA menghasilkan sekitar 1
kg CO2. Mengakibatkan
gas rumah kaca penyebab pemanasan global."
Vio berjeda sejenak
membasahi kerongkongannya dengan es teh yang kubawa tadi.
"Lo harus paham benar
siklus dan prosesnya, Ga. Lo kudu praktik sendiri di rumah agar tidak hanya
wacan doang buat lo."
"Oh, nggak cukup baca
materi yang sudah kita susun ini? Gue cukup paham kok!"
"Kalo lo menjadi
pelaku, lo akan takjub dengan banyak penemuan-penemuan baru yang tidak kita tuliskan,
dan lo bisa punya hasil pengamatan lo sendiri yang bisa memperkuat pemahaman
lo."
"Oke!" sahutku
yakin. Aku setuju dengan pernyataan Vio. Karena wawasan tanpa aksi itu hanya
keraguan yang muncul.
Vio mengacungkan jempol. Ada
optimis muncul di anggukan Vio. Kami akan menjadi pasangan duet yang terbaik.
"Wah dua minggu lagi.
Ga terasa ya? Gue deg-degan deh."
"Eh, bukannya panen
pupuk organiknya setelah 21 hari? Gue cuma dapat 14 hari dong sebelum hari
H."
"Nggak masalah, Ga. Kan
kita juga sudah ada bahan pengamatan Felita yang di kantin."

Komentar
Posting Komentar