Bu Lia 15

 

#Baber2U

#Bab15

#Bu_Lia

 

Bab 15

 

"Lepaskanlah. Maka esok lusa, jika dia adalah cinta sejatimu, dia pasti akan kembali dengan cara mengagumkan."

 

_Rega

Aku terpaku di depan papan pengumuman sekolah, namaku tercantum dalam daftar nama-nama siswa yang terpilih mengikuti lomba karya ilmiah antar sekolah. Sepertinya guru kami mengambil satu anak di tiap kelas untuk kemudian diseleksi lagi. Ada 20 nama di tiap-tiap angkatan yang diambil dari 10 kelas berbeda. Memang ada 10 rombel kelas pada tiap angkatan. Total ada 60 murid yang terpilih dari 300 an siswa.   

 

"Lo kan jago di bahasa inggris, pantes nama lo terpilih."

Riko yang sedari tadi memang jalan bersamaku berkomentar. Aku manggut-manggut. Menebak-nebak lomba macam apa yang akan aku hadapi nanti. Karya ilmiah dengan bahasa inggris?

 

"Rega!"

Baru beberapa langkah aku dan Riko meninggalkan papan pengumuman, seseorang memanggil.

 

Bu Tari, guru wali kelas kami yang memiliki perawakan sederhana dengan jilbab yang bersahaja berjalan tergesa ke arahku.

 

"Sudah baca pengumuman, kan?"

 

"Sudah, Bu!"

 

"Pulang sekolah berkumpul di kelas 11-A untuk disampaikan juklak dan juknis lombanya oleh Waka Kesiswaan."

 

"Siap, Bu!"

Kemudian Bu Tari melangkah mendahului kami.

 

*****

 

Aku tidak mengada-ada saat mengatakan bahwa aku popular di sekolah. Doni sekali-kali harus main ke sekolahku agar dia tahu seberapa kuat pesonaku menebar ke cewek-cewek di sini. Hehe.

 

Seperti kali ini…

 

"Hai…!" seseorang tiba-tiba berdiri di depanku dan menyapa dengan mata berbinar.

 

"Gue Widia dari kelas 10-F. Lo Rega dari 10-B, kan?"

Kukernyitkan dahiku. Gadis itu mengulurkan tangannya mengajak salaman. Kubalas uluran tangannya canggung dan dia menjabat dengan semangat sambil menggenggam kuat tanganku.

 

"Ya, salam kenal," jawabku tanpa antusias.

 

"Okey, gue ke kelas dulu. Besok kita ketemu lagi. Ngobrol lagi. Boleh kan?"

Aku mengangguk. Setelah dia pergi kuputar bola mata jengah, sedang Riko yang duduk di sampingku tersenyum cengengesan.

 

"Sabar, Ga… ini cobaan bagi cowok seperti Lo."

Riko terkekeh setelah mengatakan itu, mengkin menganggap apa yang kuraih saat ini adalah talentaku dari lahir.

 

"Gue iri sama lo, Ga! Tampang oke, pinter lagi." Aku hanya tersenyum samar. Riko tak tahu saja seperti apa ulahku saat SMP.

 

"Lo hanya lihat hasil, Ko. Nggak tahu perjuangan gue sebelumnya?"

 

"Perjuangan apa? Dari awal kelas sepuluh lo udah pinter en serba bisa gitu kok."

Sembari berjalan kurangkul Riko, mengajaknya kembali ke kelas karena jam istirahat sudah hampir selesai.

 

"Lo belum kenal gue aja!" singkatku tanpa memperhatikan ekspresi tanya di wajah Riko.

****

 

Ternyata lomba karya ilmiyah bahasa inggris ini adalah sebuah projek penggabungan , yang akhirnya nanti harus kami tulis bahasa inggris dan dipresentasikan di depan juri dengan bahasa inggris pula.

 

Dalam satu projek dikerjakan dua pasang.

 

Hanya tiga pasang yang akan diikutkan dalam perlombaan setelah diseleksi begitu ketat.

 

"Gue tahu kita berjodoh, Rega!"

Gadis ini, yang beberapa hari lalu mengenalkan dirinya. Siapa namanya?

 

"Gue Widia, pasangan lo di lomba kali ini," katanya sambil senyum yang tak sedikit pun lepas dari bibirnya.

 

"Oh," responku datar.

 

"Kita akan sering bertemu, Rega! Yey…gue bisa sering-sering melihat lo."

Hah! Aku tertawa lirih. Gadis ini tak berusaha menutupi rasa sukanya.

 

"Oh ya, gue putri ibu kantin yang sering lo ajak ngobrol itu."

Oh, Ibu kantin yang ramah itu ibunya? Pantaslah gadis ini mirip seperti ibunya yang murah senyum.

 

"Kapan kita berdiskusi masalah lomba, Widia?" tanyaku.

 

"Gue siap kapan saja!"

 

"Oke, setiap jam istirahat kita ketemu di perpustakaan."

Widia mengangguk semangat sembari membenarkan anak poni yang menutupi sebagian matanya.

 

"Oke."

 

"Oke. Gue ke kelas duluan," ujarnya sambil mendahului berjalan. Aku berjalan juga di belakangnya.

 

"Eh, kenapa lo ngikutin gue?"Widia berhenti sesaat sambil menoleh padaku.

 

"Haha…gue ngikutin lo? Gue juga menuju ke kelas. Searah, kan?" lucu sekali gadis ini.

 

"Oh…iya. Maaf." Dia berjalan lebih cepat kemudian berlari. Entah apa yang dia pikirkan. Aku terkekeh sendiri.

 

****

 

"Lo ada usul?"

 

"Iya, gue semalaman memikirkan ini." Widia mengambil buku catatannya dan membuka coretan yang sudah dia buat.

 

Dia meneruskan, "sebelum kita memutuskan, kita sama-sama mencari masalah lingkungan yang ada di lingkungan kita masing-masing. Kemudian memetakan bareng-bareng. Baru kita bisa tahu, apa yang kita ambil. Gimana?"

 

Tema besar untuk lomba ini adalah tentang masalah lingkungan hidup. Sepertinya jika seperti apa yang diusulkan Widia, karya ilmiah kami lebih kontekstual.

 

"Oke, gue setuju. Hari Senin kita ketemu lagi dan membuat petanya."

 

Widia mengangguk kemudian menyangga kepalanya sambil melihatku dari samping.

Ada apa dengan cewek ini?

 

"Lo mikirin apa lihat gue begitu?"

 

Widia gelagapan.

"Eh, gue mikir, kita pasti bisa menang kalo kita bisa kompak gini." Widia segera menata buku-bukunya dan memasukkannya ke dalam tas.

 

Aku hanya geleng-geleng. Dasar cewek.

 

****

 

Bersambung

 

Nganjuk, 10 September 2021

Yulia Tan

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Noda Pada Gadis Kecil Itu

Menulis adalah duniaku

Wisuda ODOP