Bu Lia 5
#Baper2U
#Bab5
#Bu_Lia
BAB
5
"Jatuh hati tidak bisa memilih. Tuhan memilihkan. Kita hanyalah korban. Kecewa adalah konsekuensi. Bahagia adalah bonus."
__Rega
_________
Dengan keramahan yang tidak dibuat-buat aku persilakannya masuk ke rumahnya, tanpa ragu-ragu kuikuti Bu Lia masuk ke
rumah bagian dalam. Aku heran sekaligus senang saat melewati ruang tamu. Hanya ada
sebuah rak tinggi dipenuhi buku yang memisahkan rung tamu dan ruang setelahnya,
yang setelah kumasuki adalah sebuah ruang keluarga yang sekaligus menjadi ruang
makan. Setelah itu ada halaman terbuka yang dipenuhi aneka tanaman. Ada gazebo di
tengah kolam ikan yang tak seberapa besar.
Aku berdecak kagum. Rumah Bu Lia estetik sekali. Bikin
betah saja.
Tanpa disuruh aku langsung menuju gazebo di seberang dapur tanpa sekat itu. Nikmat rasanya duduk di atas gazebo yang terbuat
dari bambu batik khas Salatiga Jawa Tengah itu. Wangi bambu masih dapat kucium samar.
Bu Lia pun lalu turut duduk, tapi pandangannya justru diarahkan ke luar
jendela, pada tanaman sayur di polibeg yang berderet seperti barisan murid sekolah kami saat mengikuti upacara bendera tiap Senin.
"Ibu menunggu saya tadi malam?" Aku berjanji
dating malam Minggu, tapi aku datang Minggu pagi.
"Kenapa kamu nggak datang semalam?"
"Ibu beneran nungguin saya?" seruku tak
percaya. Mengetahui kehadiran kita dinanti seseorang terkasih ternyata sebegitu
bahagianya.
"Kalau tahu kamu bukan tipe anak yang suka menepati
janji, Ibu nggak akan menunggu kamu semalam." Berkata begitu lalu Bu Lia
membuka map bertulis DKN di sana.
Aku ngekek, guruku mengapa menggemaskan sekali saat
marah ya?
"Maaf, Bu…."
Bu Lia tersenyum. Alasan nomer empat mengapa aku
menyukai Bu Lia, karena Bu Lia tidak berusaha memaksaku menceritakan hal yang dia
tahu aku belum ingin cerita.
"Ibu nggak pengen tahu, kenapa saya nggak jadi datang?"
"Enggak!" jawabnya singkat. Gemesin banget.
"Jadi belajar, nggak?"
Aku mengangguk sambil menahan tawa dan mengeluarkan buku bahasa inggris dari tas.
"Ada dua tugas yang harus kamu selesaikan. Buka LKS kamu dan kerjakan halaman 36!"
Setelah memintaku mengerjakan Lembar siswa, Bu Lia beranjak.
"Ibu mau ke mana?"
"Kamu nggak ingin minum?"
"Ooh...kirain mau ninggalin saya di rumah."
"Setelah itu Ibu memang harus keluar sebentar."
"Ke mana, Bu?" Bu Lia tak menjawab hanya melenggang pergi tanpa menoleh.
______
Sudah hampir satu jam, tapi Bu Lia belum juga kembali. Percaya sekali guruku itu meninggalkan rumahnya pada bocah berandalan sepertiku. Nggak takut tiba-tiba aku merampok isi rumahnya, ya?
Pekerjaanku sudah selesai. Dari tadi aku sudah mengelilingi taman tengah rumahnya yang asri. Bu Lia mencintai anggrek. Banyak sekali koleksi anggrek di taman kecilnya ini. Di tiap pilar gazebo ini tergantung warna-warni bunga anggrek. Di bagian atap gazebo juga bergelatungan anggrek jenis beda.
Namun tanamannya beragam. Aku melihat banyak tanaman yang tak kukenal. Setiap pot diberi nama dan manfaatnya yang sebagian besar tak pernah kutahu sebelumnya. Halaman depan sepertinya khusus untuk tanaman sayur mayur, sedang taman tengah ini lebih banyak jenis bunga, buah, dan tanaman herbal.
Seperti mini laboratorium herbal. Pantas saja Bu Lia begitu menyenangkan, lihat saja, siapa pun yang lihat taman ini akan sepakat bahwa pemiliknya memiliki pribadi yang penuh kasih sayang dan memang pantas dicintai banyak orang.
Ponselku berbunyi.
'Rega, Ibu sepertinya lama. Kalau sudah selesai kamu boleh pulang. Tolong kuncikan rumah Ibu, dan bawa dulu kuncinya. Ibu sudah bawa kunci serep. Besok kamu bisa kasihkan kunci itu saat sekolah.'
Panjang sekali pesannya. Inilah Bu Lia, tahu sekali bagaimana caranya menjadikan muridnya atau siapa pu merasa dipercaya. Dia tahu, bahwa bocah seumuranku akan merasa sangat dihargai saat dipercaya. Dan kami, akan sangat menjaga kepercayaan itu.
Sambil melangkah aku mencoba sepuasnya melihat-lihat tata ruang rumah Bu Lia, melihat koleksi bukunya, foto-foto yang terpasang di dinding ruang tamunya.
Suaminya terlihat sangat tak sepadan saat bersanding dengan Bu Lia di foto pengantinnya. Dan aku tak ingin melihatnya lama-lama.
Ada foto anak perempuannya. Dari foto bayi hingga foto terakhir. Sepertinya sekarang baru kelas empat esde. Cantik seperti Bu Lia.
Kemudian aku keluar dan mulai menstater motor saat kulihat Bu Lia turun dari taxi, kemudian berlari masuk rumah dengan wajah merah berurai air mata.
______
BERSAMBUNG
Nganjuk, 27 Agustus 2021
Yulia Tan
Komentar
Posting Komentar