Bu Lia

 

#Baper2U #Bab2

Judul : #Bu_Lia

Bab 2

Karena Bu Lia

"Aku suka bagaimana dia membuatku merasa segala sesuatu mungkin terjadi, atau seperti hidup itu sepadan." - Tom Hansen, 500 Days of Summer


"Kenapa pada nongkrong di sini?" 

 Aku menoleh pada suara itu. Ah, lagi-lagi guru ini. 

Aku dan beberapa temanku sedang membolos di belakang kantin. Beberapa temanku malah sedang merokok. Aku hanya membawa dua botol bir dosis rendah, untungnya. 

"Tempat nongkrongnya di sini to ternyata?" Bu Lia tiba-tiba duduk di bangku panjang yang kami duduki. Menggeserku dan Lucki,  mengambil posisi di antara kami. 

"Saya juga mau dong, nongkrong sama kalian." Sambil bicara begitu Bu Lia menyaut botol di tanganku dan meneguk isinya hingga tandas.  Aku melihatnya tidak percaya.

Setelah itu Bu Lia terkekeh. 

"Kalau minum gini aja, mah...ibu bisa." Bu Lia mengusap sudut bibirnya.

"Ngobrolin apa sih kalian?" tanya Bu Lia setelah mengembalikan botol itu kepadaku. 

"Masa depan, Bu!" sahut Bujang sok. Eumm.... Apa sebenarnya yang kami obrolkan tadi? Aku tak menyahut karena sedari tadi memang tidak fokus apa yang teman-teman obrolin. 

"Memang, ingin masa depan kalian seperti apa?"

"Seperti orang-orang sukses itulah, Bu." Lucky menjawab tanpa mikir. 

"Pengen kerja, Bu! Nggak betah sekolah, pengen cari duit aja." Bujang

Yang lain sepakat.  Aku hanya diam. 

"Kalau Rega?" Bu Lia beralih kepadaku. Aku tersenyum kecut lalu menggeleng. 

"Emang saya bakal punya masa depan, Bu? Kayaknya nggak ada masa depan yang pantas buat saya." Aku terkejut dengan apa yang aku katakan. Tapi ditatap Bu Lia begini, entah, aku merasa ingin bercerita banyak hal pada wanita ini. 

Tanpa dikomando, teman-temanku beranjak pergi pamit kembali ke kelas meninggalkan kami berdua. Mereka tahu, akan ada banyak hal yang perlu aku dan Bu Lia ceritakan yang tidak boleh di dengar mereka. Aku tak pernah menceritaka apa pun ke mereka. Mungkin itu yang membuat mereka kompak memberi kesempatan padaku untuk menceritakan pada orang yang tepat, pada akhirnya. 


"Masa depanmu adalah masa saat ini, Rega. Apa yang kamu lakukan saat ini, itulah masa depanmu." Aku sering mendengar perkataan itu. Tapi kenapa ketika Bu Lia yang mengatakannya, rasanya beda. 


"Coba kamu ingat, apa saja yang sudah kamu lakukan untuk masa depanmu? Masa depan apa yang akan kamu dapatkan jika masa ini kamu warnai tanpa arti?"

Aku diam. Bu Lia mengganti posisi duduknya hingga kami saling berhadapan. 

"Apa keinginan terbesarmu, Rega?" Tanya itu dia ucapkan sambil meraih kedua tanganku. 

Aku berfikir.  Rasanya aku tidak memiliki keinginan apapun selain...

"Membunuh Doni."

Bu Lia tak nampak terkejut. Dia tersenyum yang sialnya membuat aku merasa tersihir. 

"Kamu tak ingin mengalahkannya dengan cara yang jentel?"

Apa itu? Aku memiringkan kepalaku tanda aku ingin tahu.  

"Kalau kamu hanya bisa membunuh Doni, kamu kalah. Doni akan tetap menang. Lihatlah. Dia selalu menjadi pelajar hebat. Dia pintar, berprestasi, banyak dicintai temannya,  pemimpin yang baik, pula. Sedang kamu?"

'Tukang berkelahi, ketua genk sekolah yang sudah beberapa kali dapat SP dari kepala sekolah, tukang bolos, dan dibenci banyak guru karena ulahku.' Aku meneruskan apa yang dikatakan Bu Lia dalam hati. Kemudian menunduk. Malu.

"Kalahkan Doni dengan cara yang elegan, Rega. Kamu masih kelas delapan, kejar prestasinya di kelas sembilan nanti. 

"Percuma, Bu, saya sudah tidak naik kelas tahun kemarin." 

"Tak ada yang terlambat, Nak. Kamu hanya butuh keyakinan. Karena kau sebenarnya memiliki potensi lebih besar dari siapa pun." Ada sesuatu yang mendesak di mataku. Doni lebih beruntung dari aku, dan aku membencinya.  Aku tak seberuntung Doni yang selalu didukung Ayah kami.  

"Doni dapat dukungan penuh, dari Ayah, sedang saya hanya dapat caci maki Ayah." 

Biarkan aku bercerita tentang keluargaku!! Karena ada sesuatu dari wanita ini yang membuatku yakin, bahwa masih ada bahagia untukku walau itu sedikit.

Bu Lia menatapku dengan mata teduh. Aku tak berfikir entah Bu Lia memandangku seperti apa. Aku tak perduli. Apa dia akan membenciku karena cerita yang kututur barusan? 

Tak berani menatap mata itu, aku menunduk sambil terus bercerita dengan luapan emosi yang tak bisa kutahan. Aku hanya ingin bercerita. 

Aku mengakhiri cerita karena melihat Bu Lia yang menangis tersedu.  

"Kenapa Ibu menangis?"

"Nggak tahu, Rega. Ibu hanya ingin menangis." Tangannya mengusap mata beningnya.

" Ibu hanya kasihan." 

"Pada saya? Atau Doni?"

"Ibu kasihan pada hatimu yang baik. Yang dikotori rasa benci terhadap kakakmu sendiri. Mengapa rasa benci itu mengotori hati baik kamu,  Rega?"

Aku menunduk, entah apa yang kurasa. Aku tak mampu mendefinisikan.

Namun aku yakin, setelah hari ini. Aku akan mewarnai hatiku menjadi lebih indah. Aku bersumpah. Untuk wanita di depanku ini.

____

Ada perubahan padaku. Aku menjadi lebih mudah senyum, rasanya semangat sekali saat pelajaran Bahasa Inggris. Aku tak mencoba fokus pada pelajarannya, aku hanya fokus pada Bu Lia. Saat dia tanya ada yang kurang faham, aku mengangkat tangan. Kemudian Bu Lia memanggilku ke depan. Duduk persis di depan bangku guru dan membiarkan yang lain mengerjakan soal yang diberikan Bu Lia sebelumnya. Sedang Bu Lia dengan serius menjelaskan apa yang tak kupahami. 

Aku mewanti-wanti pada yang lain, hanya aku yang berhak duduk di depan Bu Lia, saat pelajarannya. Tak satu pun berani membantah. 

Bu Lia percaya saja setiap aku minta di'istimewakan' karena dia pikir aku lama bolos dan tertinggal banyak pelajaran. Dia begitu semangat karena aku mulai mau aktif sekolah lagi. 

Ah, aku ingin setiap hari ada pelajaran Bahasa Inggris. Setiap hari dan setiap jam pelajaran. 


Bersambung

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Noda Pada Gadis Kecil Itu

Menulis adalah duniaku

Wisuda ODOP