Anne si Rumput Ilalang

Anne of Green Gables menceritakan seorang anak perempuan yatim piatu bernama Anne Shirley yang imajinatif. Ia suka berbicara mengungkapkan apa saja yang terlintas di benaknya. Akan tetapi, sebagian di antaranya adalah imajinasinya. Ia gemar berkhayal. Jika melihat sesuatu yang menarik baginya, ia lantas menciptakan ceritanya sendiri seolah nyata.

Ia merasa daya khayalnya terkukung saat masih tinggal di panti asuhan. Oleh karenanya ia sangat antusias ketika harus berlayar menuju pulau  Prince Edward untuk tinggal bersama kakak beradik Matthew dan Marilla Cuthbert di rumah mereka yang disebut Green Gables

Sayangnya, sambutan kakak beradik itu tidak seperti yang diharapkan Anne. Keduanya terkejut melihat yang datang adalah anak perempuan berambut merah yang kurus dan wajahnya berbintik-bintik, padahal yang mereka harapkan adalah anak laki-laki yang kuat untuk membantu mereka yang telah menua mengurus lahan pertanian mereka.  Marilla hendak mengirimnya kembali ke panti asuhan, akan tetapi Anne terus berupaya agar keduanya bisa menerima dan menyukainya.

Aku suka penggambaran sosok Anne yang ceria dan suka berkhayal. Ia sebenarnya anak yang baik dan hanya berharap bisa tinggal di rumah yang hangat bersama orang-orang yang menyayanginya. Dalam buku ini ia memiliki beberapa kawan dan tidak sedikit teman-teman yang suka mengejeknya.

Ternyata benar. Anne sangat mirip dengan Tita, anakku. Daya hayalnya yang tinggi seperti anakku. Dia membayangkan segalanya yang dia temui punya nyawa dan bisa mendengar seperti pepohonan, bunga, bahkan batu dan air. Semua dianggapnya teman dan wajib baginya mengajak bicara benda-benda itu agar tak kesepian seperti dirinya. Both are the same. Bedanya anakku tak pernah merasakan kesepian bersama orang tuanya.

Serial televisi Anne of Green Gables yang dirilis tahun 1985 (sumber: imdb)

 (sumber: imdb)

Buku ini sangat menarik. Aku menyesal baru membacanya semalam dan baru selesai siang ini. 

Novel setebal 512 halaman ini tak membiarkanku memejamkan mata barang sedetik pun. Aku seperti melihat pola tingkah anakku sendiri yang suka bercerita, yang suka bernyanyi, yang suka ngajak ngobrol apapun di depannya makhluk hidup atau makhluk tak hidup. 

Sambil membaca kuciumi pipi anakku semalam. Hehe...

Baiklah, karena tugas RCO adalah menceritakan tokoh utama dalam bukunya, bukan menceritakan anak yang mirip dengan sosok dalam cerita. Hehe..

Aku mulai mengulas tuntas siapa sosok Anne Shirley pada buku pertama Anne the Serries ini.

Simak ya...

Data buku:


Anne of Green Gables
Penulis: Lucy M. Montgomery
Penerjemah: Maria M. Lubis
Ilustrasi isi: Sweeta Kartika
Desain sampul: A.M. Wantoro
Penerbit: Qanita
Edisi kedua: Cetakan pertama, Januari 2015
ISBN: 978-602-1637-51-7
512 halaman
Buntelan dari @penerbitmizan

Tokoh dan latar:
Anne adalah gadis yatim piatu berusia 11 tahun, datang ke Desa Avonlea karena kekeliruan. Marilla dan Matthew Cuthbert ingin mengadopsi anak untuk membantu mengurus Green Gables. Tapi bukannya anak lelaki, panti asuhan malah mengirim gadis kecil berambut merah, Anne. 

Awalnya, Marilla dan Matthew ingin mengembalikan Anne. Namun, sikap gadis itu yang ceria, blak-blakan, dan kepolosannya yang kadang konyol, meluluhkan hati Marilla dan Matthew.

Seperti yang telah kusebutkan di atas, dia gadis penuh imajinasi, setiap hari Anne lewati hatinya dengan pengalaman seru. Menjelajahi Kanopi Kekasih, Danau Air Riak Berkilau, Permadani Violet, Hutan Berhantu, dan Ratu Salju. Berpetualang dengan sahabat-sahabatnya, Diana, Jane, dan Ruby. Berseteru dengan Pye bersaudara dan Gilbert, musuh bebuyutannya. Gilbert yang memanggilnya dengan sebutan Wortel karena rambutnya yang merah dan wajahnya yang penuh bintik, mungkin.

Anne, kisah menyentuh gadis berambut merah, karya legendaris Lucy Maud Montgomery yang dicintai para gadis di seluruh dunia hingga kini.

Sifat Anne yang ceria sedikit membuatku flash back masa kecilku yang menyenangkan dan ceria. Loh, kok jadi aku? Hehe... Iya, dari sini aku sadar sifat anakku memang menurun dari emaknya, ceria dan cuek, bawel dan tidak bisa diam serta imajinatif, apa saja bisa menjadi sebuah cerita. 

Oke, kembali ke laptop.

Matthew mendengarkan ocehan Anne yang tanpa titik koma tersebut tanpa menyela, dia cukup menikmati dengan diam dan langsung menyukai gadis tersebut, berharap Marilla juga mempertahankannya. Sewaktu sampai di Green Gables, Marilla tidak setuju dengan pendapat Matthew, kemudian esok hari dia akan mengurus kesalahan ini kepada Mrs. Spencer. Marilla sama sekali tidak berharap dan berpikiran akan mengadopsi anak perempuan, mereka susah diatur, dan cerewet. Apalagi sejak awal Marilla menemukan banyak hal yang menjadi kacau saat berada di tangan Anne.

Mengetahui kalau sebenarnya Anne tidak diharapkan dia sangat sedih sekali dan memohon untuk tidak dikembalikan ke panti asuhan, dia ingin sekali bebas, ingin benar-benar mempunyai rumah dan keluarga. Namun, Marilla yang keras kepala tetap pada pendiriannya.

Rasa iba terhadap gadis kecil ini tiba-tiba memenuhi hatinya. Sungguh seorang anak yang memiliki kehidupan hampa dan tak pernah dicintai juga sebuah kehidupan penuh dengan kebosanan, kemiskinan, dan pengabaian.

Marilla sekarang cukup bisa mengerti sejarah Anne yang belum terungkap semua dan menemukan kebenaran. Tidak heran anak ini begitu bahagia karena suatu harapan untuk bisa memiliki sebuah rumah yang sebenarnya. Sungguh menyedihkan jika dia harus kembali ke panti asuhan.

Ketika menemui Mrs. Spencer barulah Marilla tahu kalau Anne sangat ketakutan dan berharap dia tetap tinggal di Green Gables karena kalau Anne tidak diadopsi olehnya dia akan dilimpahkan ke perempuan jahat dan bengis, melihat itu Marilla kasihan dan tidak tega. 

Ada tawa dan haru pada cerita ini, kita akan tersenyum melihat tingkah polah Anne, bagaimana dengan mudahnya dia menarik perhatian orang lain, yang awalnya membenci berbalik menyukai dirinya. Kepolosan, keceriaan, kecerewetan dan imajinasinya yang tak terbendung menjadikan dia pribadi yang menyenangkan. 

Dia juga sangat mengerti Matthew yang jarang bicara, tahu apa yang diinginkan lelaki tua tersebut walau tanpa mengucapkannya, Anne menganggap Matthew adalah belahan jiwanya. Berbeda dengan Marilla yang cukup keras dengannya, tapi tentu saja lama kelamaan dia luluh dengan pesona Anne. Bisa dipahami kalau Marilla gampang marah melihat Anne cukup bandel, banyak membuat masalah dan keras kepala kalau sudah punya keinginan, namun di lubuk hatinya yang tidak pernah mau dia ungkapkan, Marilla juga menyayangi Anne seperti Matthew.

Yang menarik dari buku ini selain kisah hidup Anne di Green Gables adalah kesalahan-kesalahan yang dia buat. Sama seperti Anne, kita bisa mengambil hikmah dari kekacauan yang dia buat, bisa kita jadikan pembelajaran. 

"Aku mendapatkan pelajaran yang baru dan berharga hari ini. Sejak aku datang ke Green Gables, aku banyak membuat kesalahan, dan setiap kesalahan menolongku memperbaiki diri untuk lebih baik lagi. Kasus bros batu kecubung telah membuatku kapok bermain-main dengan benda yang bukan milikku. Masalah Hutan Berhantu membuatku tidak membiarkan imajinasiku terlalu liar. Kesalahan kue minyak angin membuatku berusaha tidak ceroboh lagi sewaktu memasak. Mengecat rambut membuatku tidak berbangga diri secara berlebihan. Dan kesalahan hari ini akan mencegahku untuk terlalu romantis. Aku sudah menyimpulkan bahwa tidak ada gunanya untuk mencoba bersikap romantis di Avonlea. Mungkin hal itu cukup mudah dilakukukan di Camelot yang penuh menara pada ratusan tahun yang lalu, tetapi saat ini romansa sudah tidak dihargai. Aku cukup yakin bahwa kau segera melihat kemajuanku dalam hal ini, Marilla." 

Cuplikan hikmah yang diungkap Anne kepada Marilla yang sangat menyentuh. Aku dapat banyak pelajaran dari kalimatnya, bahwa setiap kegagalan ada pelajaran luar biasa.

Bagian yang menyentuh di buku ini tentu saja hubungan Anne dengan keluarga Cuthbert. Anne belum pernah merasakan apa itu keluarga, sejak kecil dia sudah ditinggal pergi oleh kedua orangtuanya, singgah di beberapa tempat dan menjadi pengasuh, membuat dia tidak pernah merasakan kasih sayang.

Tapi di Green Gables lah dia mendapatkan semuanya, pun dengan Cuthbert bersaudara yang selama hidup mereka hanya diisi kekosongan.

Anne menghadirkan warna, menghadirkan tawa dan kebahagiaan. Aku suka sekali dengan karakter Matthew, dia baik dan pengertian. Terharu ketika diam-diam dia memberi kado natal untuk Anne, sebuah gaun berlengan gembung yang sedang ngetren saat itu, impian semua gadis kecil di mana Marilla tidak terlalu mempedulikan. Marilla memang keras namun dia juga mempunyai sisi yang baik, hanya berbeda saja cara menunjukkannya.

Membaca buku ini membuat aku tahu posisi anak yatim piatu jaman dulu, bahwa kehidupan mereka sangat menderita, rata-rata mereka diadopsi untuk bekerja, karena bisa dibilang bayaran mereka lebih murah, hanya diberikan tempat tinggal, makan, dan pendidikan sekadarnya. 

Jarang orang mengadopsi untuk dijadikan anak sungguhan, beruntung Anne bertemu dengan keluarga Cuthbert, walau niat awalnya sama, tetap saja Cutbert bersaudara tidak tega mempekerjakan Anne dan malah menyekolahkannya sampai suatu saat Anne bisa meraih impiannya.

Walau kadang menjengkelkan, yang aku suka dari Anne adalah dia tidak akan mengulangi kesalahan yang pernah dia buat.

Buku ini bercerita tentang harapan dan impian gadis kecil yang penuh imajinasi dan gampang marah kalau ada yang menyebut dirinya memiliki rambut wortel, tentang kisah masa kecil yang penuh dengan petualangan, persahabatan, dan tentang arti keluarga.

Anne memberi satu pelajaran berarti yang masih terngiang, bahwa kehidupan itu indah dan seru saat kau bersyukur. Hal buruk yang kita alami merupakan cara Tuhan untuk menunjukkan rasa cintanya pada kita dengan sangat romantis. Kesalahan adalah proses untuk perbaikan tapi jangan pernah melakukan kesalahan yang sama. 

Tokoh Anne ini sangat sukses membuat pikiranku terbayang terus seperti aku pelakunya, dia juga membuatku merasa sangat bersyukur punya anak seperti putriku saat ini. 

Anne mengajarkan, Dua hal yang bisa mengantarkanmu pada kebahagiaan. 'Bersyukur dan Membaca'.

Tapi ajaran 'Guruku' menyempurnakan dengan: Bersyukur dalam artian luas membentang dan Membaca juga dalam artian sangat luas.


5 Desember 2019
Tanjunganm Nganjuk
Yulia Tanjung

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Noda Pada Gadis Kecil Itu

Menulis adalah duniaku

Wisuda ODOP