I am a woman
Saya adalah seorang perempuan.
Saya tidak punya impian khusus sebagai perempuan. Tidak punya impian muluk sebagai perempuan. Saya hanya ingin menjalankan kodrat saya sebagai perempuan. Karena bahkan tanpa mimpi pun kodrat sebagai perempuan adalah hal yang agung untuk dikerjakan.
Perempuan adalah sebuah kata sakti yang berasal dari kata 'empu' yang diberi awalan 'per-' dan akhiran '-an'. Jadilah per-empu-an. Kata 'empu' sering kita dengar mengiringi nama-nama luhur seperti 'Empu Gandring' yaitu Sang Ahli pembuat keris pada zamannya. Begitupun juga 'Empu Tantular' Sang penulis legendaris sebuah buku sakti Sutasoma yang kata Bhineka Tunggal Ika diambil dari dalamnya.
Ya... Empu adalah gelar kehormatan yang disematkan khusus untuk seseorang yang sangat ahli di sebuah bidang tertentu. Begitu KBBI menuliskannya.
Dan amazingly, gelar itu disematkan untuk para makhluk Tuhan seperti kita, yang dengan segala keterbatasan, kelemahan, air mata, sikap manja, kebiasaan gosip, dan segala sifat yang kadang kita sendiri malu telah memilikinya. Entah, apa tujuan para leluhur bangsa kita hingga wanita bergelarkan juga perempuan?
Dengan memahami makna adigung adiluhung-nya gelar perempuan yang melekat dalam diri, saya tidak berani banyak bermimpi. Karena sebagai perempuan seyogyanya dan semestinya lah membuat perilaku seperti Sang Empu. Ahli dalam segala hal, kuat dalam nalar, kuat rasa yang menyertakan, bergerak untuk kemaslahatan.
Perempuan seharusnya ahli dalam segala bidang. Itulah kodratnya yang mau tak mau harus dipunyai, bukan hanya karena mimpi, tapi sebagai keseharian yang melekat, sebagai kepribadian dan karakter yang mendarah daging.
Kalau boleh kita analisa, apa yang semestinya perempuan lakukan adalah untuk pencapaian yang luar biasa. Bergerak secara masif di setiap kerumunan masyarakat, menjadi seseorang di balik layar dalam pergerakan untuk tercapainya sebuah keutuhan keluarga, masyarakat bahkan sebuah bangsa.
Sering kita dengar bahwa di balik pria besar pasti ada perempuan hebat. Atau anak yang hebat terlahir dari perempuan hebat. Itu adalah sabda agar perempuan memiliki tekad, menggerakkan, dan menyelamatkan siapapun yang berada di sekitarnya.
Jadi ingat sebuah cerita yang pernah saya baca. Siapa yang tidak kenal dengan Barrack Obama. Presiden pertama dari kalangan kulit hitam di Amerika Serikat. Dia sedang makan malam di sebuah restoran mewah dan megah di kota California beserta istrinya Michelle Obama. Di saat mereka menunggu menu yang mereka pesan, seseorang menyapa mereka. Dia adalah pemilik restoran elegan itu. Siapa dia? Ternyata dia adalah mantan pacar Michelle Obama saat dia kuliah dulu. Setelah bercakap sebentar, Sang Pemilik restoran undur diri dan Obama berkomentar dengan cemburu setelah melihat keakraban mereka.
"Waah... Seharusnya kamu menikah dengan mantan pacarmu itu. Kau pasti senang karena menjadi istri pemilik restoran megah ini" begitu celetuk Sang Presiden.
Michelle menjawab.
"Jika aku menjadi istrinya, maka dia bukan menjadi pemilik restoran, dia akan menjadi Presiden Amerika Serikat"
Kekuatan perempuan untuk mendorong suami, anak dan orang disekitarnya untuk mencapai mimpi mereka adalah sebuah mimpi besar yang harus dicapainya. Dia tidak harus berada di garda depan. Dia cukup menjalankan kodrat dan kewajibannya agar keluarganya menjadi keluarga hebat. Dia adalah Universitas pertama seorang anak. Peranan perempuan cukup krusial untuk membangun bangsa yang hebat dan bermartabat. Maka dia tak akan punya keinginan dan angan-angan untuk mimpi dia sendiri. Dia akan bahagia saat anak-anaknya tumbuh sehat, bahagia dan cerdas. Dia cukup bangga saat suaminya menjadi seorang yang mumpuni.
Saat perempuan menjalankan kodratnya dengan sebaik-baiknya. Maka negara akan memiliki orang-orang hebat, generasi yang terselamatkan, dan bangsa yang dalam keutuhan. Tak akan ada cerita suami berselingkuh, anak yang kacau, keluarga pecah dan lain-lain.
Karena begitulah tugas perempuan, itulah mengapa Tuhan menciptakan perempuan agar terlahir di bumi.
Hmmm....
Saya bahagia dikutuk Tuhan menjadi perempuan. Yang bisa melakukan apa saja demi suami dan anaknya, yang bisa membuat skenario terbaik untuk keluarganya, yang perannya tak akan tampak di permukaan tapi menciptakan peradaban.
Perempuan adalah penentu peradaban dunia.
Dengan kodratnya yang seperti itu, bagaimana saya bisa bermimpi? Karena mimpi saya adalah mewujudkan mimpi suami dan anak-anak saya kelak. Menciptakan kedamaian keluarga saya. Kedamaian di dunia dengan menjalankan laku dunia dengan sebaik-baiknya untuk menuju keselamatan kehidupan setelah kehidupan. Karena kehidupan dunia hanya sebentar. Yang abadi adalah kehidupan setelahnya. Sudahkah kita persiapkan bekal untuk ke sana kelak?
Itulah mimpi saya, bahagia di dunia dengan membuat keselamatan untuk diri dan keselamatan orang yang saya cintai agar kami bahagia di sana. Bersama Tuhan kami.
Tanjunganom, 17 April 2019
Yulia Tanjung
Kayaknya saya harus belajar nulis ke bude Yuli nich....
BalasHapusPractice makes you perfect
HapusKeren ini tulisannya, dalam maknanya 👍
BalasHapushanya otak atik masuk mbak...masih grotal gratul nih...
Hapus