Es mosi rasa Be-Te

Astaghfirullah...
Pagi ini kuhiasi hari dengan emosi.
Aku sedang piket KBM di kantor. Dan begitu melihat telpon genggamku, aku sudah merasa geram. Banyak sekali yang izin tidak masuk kelas hari ini. Kebayang gimana repotnya distribusi tugas ke kelas-kelas. Dan lagi-lagi aku sendiri piket hari ini, partnerku ada sesuatu yang harus dikerjakan.

Menambah kesal di hati, saat distribusi tugas. Kelas kosong. Anak-anak entah pada ke mana. Semua tak terkondisikan dengan baik. Anak-anak kopar bercecer ke mana-mana. Dan jadilah petugas piket yang oprak-oprak berlarian menggiring mereka masuk kelas. Tak kepayang capeknya. Kemudian, ternyata tugas-tugas yg diberikan beberapa sudah dikerjakan anak-anak kemarin. Karena intruksi tugasnya memang hanya 'meneruskan tugas kemarin'. Arrrggg... Aku paling benci tugas seperti itu jika untuk anak-anak. Yang bikin geregetan lagi, ada yang memberi tugas langsung pada anaknya, tidak melalui petugas piket, satu lagi kosong padahal dia ada tadi. Entah apa alasannya.
Semua pasti tahu, jika jam pertama anak-anak kosong, selanjutnya mereka akan terus tak terkondisikan dengan baik. Sebenarnya bagaimana membuat kita bisa masuk kelas di jam pertama. Kasihan anak-anak. Kasihan masa depan mereka. Apa harus dijanji ya para Asatidznya untuk bisa masuk jam pertama bagi mereka yang kebagian masuk jam pelajaran yang krusial itu. Jam 1-2 yang sangat urgen. Atau hanya Asatidz yang 'sanggup' masuk di jam 1-2 itu saja yang diberi jam 1-2? Ah... PR Kaur Kurikulum ini.

Hhm... Kuredam-redam emosiku...
Bukankah ini ibadah hanya sakdermo NindakE Dhawuh Guruku? Harusnya aku menjalankannya dengan ikhlas, senyum dan enjoy. Mungkin semua salahku. Tidak meniatkan diri dengan baik. Karena aura dari kita seperti apa, akan ditangkap lingkungan kita. Mungkin aura yang aku tebarkan kurang baik sebagai piket KBM, jadi kondisi sekitarku juga kurang baik.

Pangapunten ingkang kathah Bapak..

Tanjunganom, 11 April 2019
Yulia Tanjung

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Noda Pada Gadis Kecil Itu

Menulis adalah duniaku

Wisuda ODOP