About Myself

Aku anak bungsu dari lima bersaudara.
Dilahirkan dari pasangan sederhana yang menjunjung tinggi nilai agama karena keduanya memiliki background pondok pesantren.

Karena anak bungsu, dan kakak-kakakku lebih dominan perempuan, aku tak pernah dituntut membantu pekerjaan rumah. Karena saat bangun di pagi hari, semuanya sudah beres oleh ibu dan kakak-kakakku. Maka tak heran aku tumbuh menjadi anak yang manja, pemalas dan ga genah kerjaan, serta memiliki respon, respek dan kepedulian yang kurang.

Anak bungsu juga memiliki paling banyak kelemahan. Kalau kakak-kakakku berparas cantik, aku memiliki paras yg paling minim. Begitupun dengan kecerdasan, semua kakakku memiliki otak encer sedang aku dedel dan sulit diajarin. Kata orang, anak bungsu itu sisa-sisa dari anak sebelumnya. Jadi semua kekurangan tumpek blek ada padaku. Pemahaman itu sempat menjadi mental block-ku.

Saat aku duduk di bangku sekolah dasar. Di MI satu-satunya di daerahku. Aku sering dibandingkan para guru dengan kehebatan serta ketenaran semua kakak perempuanku. "Kok ga sepintar Husnun ya?" "Kok ga seaktif Ila ya?" "Kok ga secerdas dan secantik Leni ya?" Awalnya aku cuek, toh orang tuaku sama sekali tidak membedakan kami. Tapi lambat laun aku menjadi pribadi yang nelangsa. Aku masih anak-anak, lumrah jika sakit hati dan menangis. Meskipun aku tak pernah menceritakannya pada orang tua apalagi para kakakku.

Dari situ, aku suka menulis curhatanku di buku harian. Sangat membantu melepaskan kesedihanku.

Keluargaku memiliki darah seniman dan sastra. Karena Bapak juga ibu memiliki suara yang sangat bagus kalau sedang bersenandung. Maka kami semua, anak-anaknya juga suka bernyanyi. Tapi hanya untuk kalangan sendiri. Hehe...

Bapak suka berdongeng. Kami sering berkumpul di satu kamar sambil didongengin. Meskipun imbalannya kami harus idak-idak tubuh bapak secara bergantian. Itu adalah masa-masa favorite kami. Setelah isya' seusai jamaah  bersama di ruang tengah.
"Sopo gelem tak dongengi???" Begitu bapak memanggil kami sembari memposisikan tubuhnya untuk tengkurap. Biasanya Mbak Husnun menjadi giliran pertama dan terakhir. Hehe.. Mbakku yg satu ini memang sangat patuh kepada orang tua.
Kemudian bapak mulai berdongeng. Yang tidak bagian idak-idak duduk di bawah ranjang sambil mendengarkan. Sedang ibu selalu memasakkan kami sesuatu untuk dimakan bersama setelah acara sakral kami selesai. Kemudian setelah kenyang kami tidur dengan damai di kamar masing-masing.

Harmonis sekalikan keluarga kami?

Cerpenis pertama di keluarga kami adalah kakak ke tiga. Kami semua penggemar tulisannya yang gurih dan rapi itu. Kemudian dari situ kami semua mencintai dunia cerpen, novel, dan segala macam tulisan. Kami suka main peran-peranan ala anak-anak.

Karena dilahirkan dari keluarga seperti itu. Maka aku merasa tidak ada yang dikhawatirkan dari olokan tetangga atau kata-kata pembanding para guru di sekolah. Aku menerima karena begitulah kenyataannya. Meskipun sulit awalnya, tapi aku terlatih dengan keadaan ini. Aku harus mengakui kakak-kakakku memang hebat dan aku bangga memiliki mereka.

Aku aktif di pramuka sejak kelas IV Sekolah Dasar. Akupun sering mewakili sekolah untuk ikut lomba di kecamatan atau kabupaten. Mungkin itu bentuk aksiku untuk menunjukkan pada dunia dan diriku sendiri bahwa aku tidak parah-parah amat menjadi anak bungsu di keluarga. Meskipun aku tahu kakakku nomer tiga dan empat juga punya segudang prestasi di kepramukaan.

Tahun 1998 karena berbagai alasan, kami pindah ke Nganjuk. Kota kecil yang tiap tahun pasti kami kunjungi karena di sinilah tinggal nenek dari ibuku dan beberapa pakdhe dari ibu. Kota yang jauh dari hiruk pikuk keramaian pada saat itu. Kota kecil yang banyak ditumbuhi pohon kelapa yang menjulang serta bunga-bunga sepatu yang kala itu sudah mulai langka di Sidoarjo. Kota kecil yang bersahaja, ndeso dan santun. Jalannyapun masih makadam. Kota ini masih virgin.

Kalau hanya mudik tiap tahun sih aku suka berada di kota ini. Tapi untuk tinggal di sini dan meninggalkan kota Sidoarjo dengan segala kenikmatan duniawinya? Jiwa kecilku tak bisa menerimanya kala itu. Aku baru saja lulus Sekolah Dasar dan bercita-cita meneruskan sekolah menengah di MTsN favorite Sidoarjo. Kami sekeluarga tidak punya musuh, teman-temanku mencintaiku dan para tetangga baik pada kami, lalu apa alasan kami harus pindah rumah? Begitu protes kami. Apalagi melihat calon rumah kami yang enggak banget. Bangunannya amat biasa. Teramat sederhana dibanding bekas rumah kami dulu. Dan kami berlima menangis tak terima.

Tapi kami dicetak orang tua menjadi anak-anak yang tidak berani nuntut dan terima apa yang menjadi keputusan orang tua.

Pelan, Kami mulai mencintai tempat ini. Apalagi saat mulai masuk sekolah MTsN terdekat dari rumah baru kami, aku menjadi 'artis' di sini. Logat ngomongku beda dengan yang lain yang sangat medok. Aku berbicara ala 'surabaya' banget.

BERSAMBUNG

Yulia Tanjung
5 April 2019

Tugas Kopling
Minggu 1 bulan April '19

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Noda Pada Gadis Kecil Itu

Menulis adalah duniaku

Wisuda ODOP