About Myself part 2
Oh ya...
Namaku Yuli. Lengkapnya Saatun Nuzuliyah. Yuli diambil dari nama belakang dengan mengubah pengucapan 'z' menjadi 'y' atas dasar memudahkan si pemanggil. Di MTsN Tanjunganom aku mengenyam pendidikan tingkat menengahku. awalnya aku kecewa dengan sekolahku ini. Bangunannya memang besar, bagus dan banyak muridnya. Tapi aku membandingkan dengan MTsN Sidoarjo yang bangunannya kecil, jelek tapi kualitasnya yang tidak bisa dianggap enteng. OSIS nya maju, Pramuka nya juga sering dapat juara propinsi, lomba gerak jalannya pun selalu menduduki tiga besar kabupaten. Beda sekali dengan sekolahku sekarang. Kuantitasnya yang diunggulkan tapi kualitasnya di nomer duakan. Itu dulu, jaman aku masih sekolah di sana. 18 tahun yang lalu. Mestinya sekarang jauh lebih baik.
Tahun pertama aku sudah menyita perhatian guru ekstra pramuka karena aku sudah melengkapi seluruh Tanda Kecakapan Khusus atau TKK ku. Aku juga sudah di peringkat Terap dengan dibuktikan lulusnya seluruh ujian SKU yang aku bawa, yaitu tanda kecakapan yang lain di tingkat Pramuka Penggalang dari Sekolah Dasarku sebelumnya. Padahal yang lain, Ramu saja belum pada lengkap.
Guru ekstraku mencoba membiarkanku selama satu bulan, istilahnya training. Karena jangan-jangan semua tanda kecakapan yang aku punya hanya beli di toko saja tanpa ujian khusus. Setelah sebulan berjalan, aku diangkat menjadi Pramuka Garuda, menyusul teman laki-lakiku dari kelas sebelah yang juga diangkat sebagai Pramuka Garuda. Karena Pramuka Garuda harus sepasang. Dari situ aku sering diikutkan lomba-lomba pramuka kecamatan atau kabupaten, aku sering diajak ke Sanggar Pramuka Kabupaten Nganjuk. Kadang menghadiri undangan untuk setiap sekolah di kantor DKR atau DKC. Dan itu berlanjut hingga akhir kelas I. Prestasi akademik ku pun tidak terlalu mengecewakan, 10 besar aku masih sanggup kantongi.
Kelas II SMP, aku mulai sibuk tidak hanya di Pramuka, tapi aku juga sering diikutkan lomba membaca puisi tingkat kecamatan atau kabupaten. Sering pula menjuarainya. Aku mampu menghipnotis penonton, begitu guru bahasa indonesiaku menilai kemampuan membaca puisiku. Aku juga dimasukkan tim khusus oleh pembina OSIS. Aku bukan anggota OSIS tapi aku mempunyai tim khusus yang memiliki otoritas setingkat OSIS bahkan lebih. Aku juga tak mengerti mengapa Pak Edi, Pembina OSIS kala itu membuat tim khusus yang hanya berisikan 5 murid saja, tiga perempuan dan dua laki-laki. Tugas kami melatih dan mempersiapkan petugas upacara bendera setiap hari Senin, kami juga ditugasi menjaga UKS dan Koprasi sekolah, kami diberi otoritas penuh di sanggar pramuka serta mencari materi dan mengkoordinir kegiatan di setiap ekstra Pramuka dan perpustakaan. Bahkan perpisahan kakak kelas, kami yang menjadi kepercayaan sekolah untuk mengatur segala acara, tampilan perkelaspun kami yang mengkondisikan. Banyak anggota OSIS yang tidak menyukai kami. Tapi apa peduli kami, kami hanya menjalankan tugas Pak Edi kok. Mungkin Pak Edi salah, saat itu karena tidak sesuai prosedur, meninggalkan fungsi OSIS, dan kami masih umur belasan tahun yang masih maju ego kami, rasa bangga kami dan ke'akuan' kami. Hingga tidak peduli dengan koar-koar anggota OSIS.
Katanya Pak Edi kecewa karena aku tidak menjadi anggota OSIS. Saat perekrutan anggota OSIS, Pak Edi mewanti-wanti kakak kelas untuk memasukkan aku yang sudah aktif di Pramuka untuk ikut pula menjadi anggota OSIS. Tapi salah satu anggota yang meragukan semua tanda kecakapan kepramukaan yang aku miliki itu hanya aku beli dari toko saja. Maka aku tak dimasukkan ke dalam OSIS. Begitu gossipnya. Tapi saat itu aku masih muda sekali. Aku hanya menjalankan amanat. Hehe...
Oh ya... Tim kami bernama KKN.
Seluruh sekolah mengenal kami. Kelas pagi ataupun kelas siang. Karena saking banyaknya murid MTsN Tanjunganom memiliki dua shif kelas. Jam 07.00 - 12.00 dan jam 12.30 -17.30. Setiap hari pasti ada surat di laci bangkuku. Suratnya macam-macam, ada yang ajak kenalan, ada yang teror kebencian, ada yang daftar ingin masuk tim KKN dan tidak sedikit yang ingin mengenal lebih dekat bahkan daftar jadi pacar, hehehe.... Kalau di ingat-ingat pengen tertawa sendiri. Lucu!
Ada tugas KKN tambahan yang kami buat sendiri. Konyol sebenarnya. Tapi saat itu kami pikir itu penting. Hehe...
Apa coba tugasnya?? Godain cowok atau mendekati seseorang yang terlihat minder dan korban bully. Kami menyebutnya itu tugas kemanusiaan. Hahaha...
Kami mendekati murid yang tampak pendiam, minder atau korban bully. Berbekal nama besar KKN, kami mendekati mereka, kami ajak berteman, kami ajak dalam kelompok kami. Maka nama mereka sedikit naik, pamor mereka terangkat. Yang menjadi korban bully sudah tidak lagi menjadi bahan pembully-an. Kalau sudah aman, kami mencari korban lain. Kami sangat menikmati tugas ini. Kami berasa pahlawan. Kami juga sering mendekati para preman sekolah, para ketua genk di sekolah, kami ajak mereka 'bergerak' dan mencoba sedikit mengurangi sifat sok boss mereka. Tidak banyak yang sukses, tapi ada sedikit perubahan dan itu sudah di jempoli oleh jajaran dewan guru yang semua mengenal tim kami. Kami juga pernah menyelesaikan kasus cowok play boy yang suka gonta ganti pacar. Salah satu dari kami mendekati dia, setelah dia benar-benar suka sama salah satu dari kami, maka kami tinggal dia begitu saja. Biar tahu rasa, begitu alasan kami. Untuk kasus ini, kami merahasiakannya dari Pak Edi. 😬
Masa MTs adalah masa terindahku selama aku sekolah. Banyak sekali kenangan menggelikan di masa itu. Yang tak akan pernah kulupakan.
SMA, aku masuk SMA POMOSDA Tanjunganom. Masa di mana aku mengenal Guru Sejati, mengenal teman sejati mengerti jatuh cinta, pembelajaran ngempet yang luar biasa, pembelajaran bergaul dengan siapapun tanpa pilih-pilih, mengenali bakatku, batinku, mengembangkan skill dan kemampuan ku.
Di sini aku merasa 180° derajat berubah. Di tingkat menengah aku orang yang sangat percaya diri. Di sini aku sempat sangat minder. Kakak ke empatku adalah seorang yang sangat disungkani di sini. Dia memiliki banyak penggemar. Dia ketua KSP (sejenis OSIS kalau di sekokah umum). Dia sangat pintar, cantik dan berwibawa, dia juga ditakuti oleh teman, adik kelas bahkan kakak kelas karena ketegasannya. Dia menjadi ketua KSP di dua periode karena kehebatan dia memimpin. Bakatnyapun seabrek. Pramuka, teater, jago bikin drama, sering menjadi sutradara, penulis skenario sekaligus pemainnya dalam sebuah drama di acara pekan seni di Pondok. Banyak cowok-cowok yang ngantri daftar jadi kekasihnya. Tapi kakakku satu ini memang tidak mudah ditaklukkan hatinya. Dia gadis yang jarang senyum, kecantikannya tersimpan sempurna. Seperti saat di Tingkat Dasar, mental Block yang sempat aku miliki dulu, muncul kembali, bahkan jauh lebih parah. Aku sering dibanding-bandingkan. Kakaknya pinter, adiknya kok enggak? Kakaknya cantik, adiknya biasa aja, pendek dan lebih gambul badannya. Kakaknya ketua KSP adiknya enggak. Semua pembandingan itu membuatku down dan sulit bergerak. Mungkin kakakku menyadari itu, maka dia berusaha membuatku lebih pinter dengan menawarkan dirinya untuk mengajari ku pelajaran yang menyulitkanku. Aku mau diajarkannya, tapi hatiku menolak, rasa gengsi menguasai ku, maka saat kakakku mengajariku, aku lebih sering melawannya, menolah apa yg diajarkannya, tidak sungguh-sungguh dengan apa yang dia ajarkan. Hasilnya aku tak dapat apa-apa, kakakku pun dikuasai emosi kemarahan merasa aku lecehkan. Ya... Kami sama-sama masih remaja yang dikuasai emosi. Mengingat itu aku menyesalinya.
Motto hidupku saat itu adalah be yourself karena aku memang sangat membutuhkan bisa menjadi diriku sendiri. Bayangan kakakku begitu kuat, aku ingin setenar dia tapi aku tak bisa. Kakakku pendiam tapi aku rame orangnya, kakaku mahal senyumnya yang justru disukai banyak orang karena terkesan cool tapi aku suka bebas dengan tawa lepas ku. Dan be yourself kurasa teramat pas mewakili isi hatiku.
Kakakku pun kurasa ingin membentukku seperti dirinya. Cewek mahal dengan segala kelebihannya. Tapi aku dan dia memang jauh berbeda.
Hingga akhirnya aku menafikan nama besar kakakku. Aku mencoba kembali seperti aku saat masa MTsN dulu. Mengembalikan percaya diriku.
Meskipun aku minder tapi aku bukan orang yang pendiam, aku rame dan ceria. Aku sembrono dan apa adanya. Hingga akhirnya ada seseorang menyadarkanku bahwa itulah kelebihanku. 'Kau tidak harus sama seperti kakakmu dengan segala nama besarnya, kau tidak seharusnya silau dengan kakakmu, kau adalah kau dengan apapun Tuhan menjadikanmu. Be yourself. Saat kau menjadi dirimu sendiri maka akan terpancar keindahanmu. Percayalah!'
Dan aku tak perduli dengan omongan orang. Inilah aku, yang cerewet, rame, heboh, bisa ngakak saat dia ingin ngakak, akan tersedu-sedan saat dia sedih bahkan hanya dengan membaca novel.
Di tahun terakhir aku duduk di bangku SMA, aku mulai menikmati masa remajaku. Aku mulai menulis. Aku punya kumpulan buku cerpen yang aku tulis sendiri, buku-buku itu suka dipinjam teman-teman, kakak kelas sampai adik kelas untuk dibaca. Mereka adalah penggemar tulisanku. Nyesek kalau ingat buku-buku itu sekarang entah di mana? Menyesal juga jika diingat tulisan-tulisanku dulu tak dokumentasikan dengan baik. Aku suka menyewa tumpukan novel yang aku baca di sela kegiatan di asrama. Beberapa temanku bahkan minta dibacakan karena mereka lebih suka mendengar dari pada membaca. Katanya aku membaca bak pendongeng yang mahir, aku suka membedakan mana suara wanita, pria, tua, muda, anak, suara takut, suara marah, ekspresi sedih dan lain-lain. Maka banyak pula pendengar setiaku di sini. Saat ada majalah remaja seperti Aneka Yess, Anita, Kawanku, Gadis atau yang lainnya, teman-teman suka memberikannya kepadaku dan memintaku untuk membacakan cerpen yang ada di sana. Dan mereka mengelilingiku untuk mendengar ceritaku. Aku juga suka menyewa novel, kemudian kebiasaanku ini menjadi jamur. Banyak yang tiba-tiba menjadi pembaca novel klasik atau novel terjemahan. Seringaku juga menyelesaikan membaca novel untuk 'pendengar setiaku'. Capek memang, tapi aku suka.
Aku tak pernah pacaran, bukan karena aku tak mau. Tapi lebih karena tidak ada yang mau menjadikan ku pacarnya. Hehe... Tragis sekali ya? Aku bukan gadis yang sulit jatuh cinta seperti kakakku, yang sulit digapai oleh pada penggemarnya. Aku merasakan cinta pada beberapa cowok. Tapi mereka tidak. Dan ada pula beberapa yang mengajakku berpacaran, tapi aku tidak menyukainya. Kasihan sekali aku. Wkwkwkkw.
Aku sempat dekat dengan kakak kelas. Awalnya biasa saja. Tapi perhatiannya membuatku suka. Tapi di saat aku mulai memujanya, dia meninggalkanku dengan menjauhiku dan memilih gadis lain. Sampai aku lulus, dia masih membayangiku sampai aku kursus di Kampung Inggris Pare Kediri. Aku sulit sekali move on. Beberapa teman cowok di Pare mendekatiku dan mengajakku berkencan, tapi aku menolaknya karena aku masih mengharap kakak kelasku. Dan kakakku menyadarkanku bahwa dia tak mungkin datang padaku. Aku dipaksa untuk melupakannya, mengingatnya hanya akan menjadikanku tak bisa menikmati masa remajaku. Dia sudah bahagia dengan gadis lain. Sambil menangis aku mencoba melupakan lelaki pengecut itu. Yang membuatku jatuh cinta sedemikian parah dan meninggalkanku begitu saja, entah apa maksudnya. Belakangan aku tahu kakak kelasku, juga beberapa cowok yang sempat dekat denganku di pondok tidak pernah bisa menjadikanku pacar karena kasta keluargaku. Apa maksudnya aku juga tidak begitu mengerti. Temanku bercerita.
"Ndak ada yang berani nembak kamu, Yul... Walau sebenarnya banyak yang menyukaimu. Tapi mana berani kami dekat dengan keluarga Ndalem"
Mungkin itu hanya alasan mereka. Sebenarnya memang aku bukan gadis yang menarik. Itu saja yang kupercaya.
Tapi pada akhirnya aku protes ke Ibuku, mengapa ibu harus menjadi adik dari pemilik pondok yang menaungi kami? Mengapa ibuku harus menjadi putri embah?karena alasan itu aku tak punya banyak teman laki-laki. Ah... Konyolnya aku. Aku lupa kalau kebahagiaan masa remaja tidak melulu karena cinta dengan lawan jenis.
Di Pare aku mulai menikmati masa beranjak dewasaku. Tak perlu kuceritakan detailnya, mungkin akan menjadi episode tersendiri di tulisanku yang lainnya. Tapi aku mendapat banyak pelajaran dan hikmah hidup di sana. Aku menemukan pecahan-pecahan mozaik kehidupanku yang berkaitan dengan kegidupan yang saat ini sedang aku lalui. Dan itu rahasia Tuhan yang diskenariokan-Nya dengan amat cantik untukku.
Hingga sekarang, aku bahagia diperistri oleh lelaki hebat yang sanggup menuntunku menuju keselamatan. Diberikanku putri yang cantik dan pintar untuk menghiasi hari-hariku. DiberikanNya pula keluarga yang utuh dan kompak, yaitu seluruh kakakku dengan keluarganya yang saling menyayangi dan mengisi di antara kami. DitambahkaNya nikmat tak terhingga karena memiliki orang tua luar biasa yang mengajarkan kami kedewasaan, kebersamaan dan mandiri serta saling menyayangi. Dan dianugerahkanNya nikmat tak terhingga karena diperkenalkan Seorang Guru yang memberitahu siapa diri ini, siapa Tuhan yang selama ini kami sembah yang Allah namaNya? Memberitahu ilmu mati yang membuka segala rahasia kehidupan hingga kami bisa menjalani kehidupan yang selamat dan menyelamatkan.
Tanjunganom, 24 April 2019
Yulia Tanjung
Sip. Semoga terus bahagia dg lika-likunya
BalasHapus