Selamat Ulang Tahun
Saya dulu sempat membenci hari ini.
Setiap tanggal 28 Juni saya mengutuknya.
Sebagai anak-anak, sangat wajar jika saya mengharap hari specialnya menjadi hari yang indah, dengan segala ucapan dan doa ulang tahun dari orang-orang tercinta juga kado istimewa.
Tapi di keluarga kami tidak ada bedanya hari ulang tahun dengan hari-hari biasa. Bapak dan ibu tidak mengadakan budaya merayakan ulang tahun anak-anaknya. Jadi tidak ada perayaan, tidak ada ucapan.
Teman-teman sekolah sayapun tidak pernah tahu tanggal ini saya sedang ulang tahun, karena setiap akhir Juni dari masa ke masa adalah saat semua sekolah libur kenaikan kelas.
Dari kecil saya merayakan ulang tahun sendiri dengan menulis diary, berdoa untuk saya sendiri dan mengucap harapan-harapan saya dalam hening.
Karena di keluarga tida ada bedanya, saya tidak berani berharap apa-apa dari orangtua.
Tapi berbeda dengan kakak ketiga saya yang beruntung di lahirkan di tanggal yang istimewa, 17 Agustus. Seluruh Indonesia merayakannya. Apalagi ditambah banyak temannya berdatangan ke rumah memberikan kado serta ucapan dan kumpul-kumpul di rumah. Otomatis ibu juga memasak banyak untuk menjamu teman-temannya.
Ada rasa iri dan cemburu seperti normalnya anak kecil seusia saya waktu itu. Tapi saya mencoba ikut menikmati meriahnya hari ulang tahun kakak saya dan ikut bahagia di hari kakak saya yang selalu meriah tiap tahunnya.
Saat naik kelas 6, ada perkemahan di sekolah. Di sana kali pertama hari ulang tahun saya dirayakan, dikerjain dan itu sama sekali di luar dugaan saya. Tanggalnya juga tidak pas tanggal saya dilahirkan, serta banyak teman yang lahir di naungan Zodiak Cancer yang juga di panggil untuk menjadi "korban" dikerjain kakak pembina.
Moment itu begitu berharga. Semua menyanyikan selamat ulang tahun, semua menyalami kami. Dan itu membuat saya tersedu sedan. Saya tidak akan melupakan hari itu.
26 Juni 1996.
SMP adalah masa kedewasaan yang mulai Tuhan bentuk untuk saya.
Saya masih merayakan ultah dengan menulis di buku diary saya. Sambil menangis sampai basah buku saya hingga tulisan tinta saya memudar dan tak terbaca lagi.
Pernah....
Ditingkat ke dua SMP, saya meminta ibu saya memberikan kado untuk saya di hari seperti saat ini.
Ibu mengabulkan, bersama kakak saya, ibu membungkus sebuah kado dan diberikan saya saat saya sudah lelah menangis dan mengharap.
Sebuah sepatu sekolah diberikan buat saya, sepatu yang ukurannya lebih besar dua nomer dari ukuran saya, alasan ibu agar awet sampai saya lulus dan tidak beli lagi di tahun depan. Ibu juga membeli sepatu buat saya karena sepatu sekolah lama saya yang sudah tidak layak pakai. Tapi saya menangis, antara bahagia dan sedih yang tidak bisa saya ungkapkan dengan kata-kata.
Di akhir saya tahu, ibu berhutang uang untuk membeli sepatu buat saya. Setelah itu, saya berjanji tidak akan meminta dan menuntut apapun di hari lahir saya.
Di SMA.
Hampir semua teman-teman yang ulang tahun dirayakan, dikerjain, bertaburan ucapan, doa dan kado. Bahkan saya salah satu yang paling getol ngerjain teman-teman saat hari ulang tahun mereka tiba.
Dan sama...
Teman-teman tidak mengenal hari jadi saya, karena hari itu mereka sedang di rumah, menikmati liburan mereka.
Saya...
Sendirian lagi dengan buku harian saya yang setia.
Di Pare tidak jauh berbeda.
Kakak-kakak saya, apalagi kakak ke tiga dan ke empat, menganggap hari lahir adalah hari yang istimewa, dan suaminya pun beranggapan sama. Maka mereka dengan bahagia merayakan setiap ulang tahun anggota keluarga mereka.
Suami saya, seperti orang tua saya. Tidak suka merayakan ulang tahun. Semua hari sama. Awal pernikahan saya protes, karena saya suka merayakan ultah suami dengan ucapan dan kado kecil. Saya menuntut suami.
Tapi, suami saya terlihat sangat terpaksa. Okelah..... Saya toh tidak bisa memaksakan pola pikir dan budaya yg tidak pas di hati suami saya.
Dan saya belajar ngikuti apa yg suami saya terapkan...
Meskipun kami tetap merayakan ultah anak kami. Walau sederhana.
Kemudian ada banyak sosmed yang bisa merayakan hari ulang tahun pengguna nya. Dari sana, ada banyak ucapan berdatangan. Itu mewarnai hari saya.
Ah....
Lucu dan kerdil menceritakan ini.
Rentetan cerita di atas saya sadari adalah salah satu yang membock mental saya.
Yups... Ini Mental Block saya...
Saya jadi mengganggap bahwa saya dilahirkan di saat yang tidak tepat.
Kelahiran saya tidak penting bagi siapapun.
Saya merinding...
Mental Block yang mengerikan....
Dan tanpa sadar itu mempengaruhi kemajuan saya sampai dewasa.
Di tahun 2012.
Setelah saya disadarkan Tuhan tentang siapa diri saya, ke mana saya harus kembali, dan untuk apa saya dilahirkan...
Saya tergugah....
Begitu ajaibnya Tuhan menulis sekenario hidup saya... Tuhan menunjukkan Sebuah Cahaya Kehidupan yang menuntun saya....
Saya mulai belajar dari TanganNya, betapa hidup ini tidak remeh, tidak cukup hanya peringatan hari lahir saja. Hari Itu sama sekali tidak berarti apa-apa...
Hidup ini luar biasa...
Saat kamu dipertemukan dengan Sang Penuntun... Sang Cahaya Ilahi.....
Saya tersungkur...
Saya bersujud....
Saya tersadar....
Saya begitu bahagia....
Ini adalah hadiah terindah...
Hadiah terindah dalam hidup saya...
Anugerah yang tidak bisa ditandingi dengan apapun...
Gusti...
Terimakasih... Atas hadiah Luar Biasa ini...
Selamat Ulang Tahun Yuli....
Hidupmu Indah...
Hidupmu luar biasa....
Hidupmu terberkati....
Dengan Restu Sang Cahaya Ilahi...
Hidupmu selamat Lahir batin bersama orang-orang yang kamu cintai...
Amin...
Kamis, 28 Juni 2018
One, in a Million... Saatun Nuzuliya!
BalasHapusKeep being you.. :B
Makasih cintaaaaaa
Hapusoalah... ultah mu 27 ya... oke noted..semoga saya ingat dan kasih ucapan ya cyyinnnn :)
BalasHapusGood
BalasHapus