Pencarian

"Loh.... Dosa bagaimana?  Kan wajar,  saat kita berkunjung ke rumah Tuhan,  kita ingin bertemu Sang pemilik rumah? " aku ngeyel.

"Di sini bertemu Tuhan itu ya menjalankan ritual umroh atau haji yang sudah ditentukan,  itu sama dengan bertemu dengan Tuhan"

Aku diam tidak menjawab karena suamiku menyarankan aku diam.  Tapi dalam hati,  aku merasa dongkol tak tertahankan. Buat apa aku mahal-mahal pergi ke sini tanpa bertemu Sang Pemilik Rumah. Bertemu Tuhan hanya dengan menjalankan ritual-ritual di sini?  Apa bedanya dengan mengerjakan di lain tempat?  Di rumah kita sendiri?  Bukankan itu hanya ritual yang dilakukan oleh raga kita dan bisa dilakukan di manapun?  Tidak harus di sinikan?  Bukankah kita di Rumah Tuhan untuk bertemu Tuhan?  Melihat Tuhan? Dan aku hanya bisa menutup muka dengan sangat kecewa sembari menahan tangis dan amarah.

Tiba-tiba semangat ku dan antusiasku di 'Baitullah' ini hilang entah ke mana, aku ingin segera kembali ke Tanah Air dan mencari sekaligus bertanya ke siapapun. Di mana aku bisa bertemu dengan Tuhan? Rasanya kerongkongan ini kering,hati ini kering. Dan aku tidak tahu harus melakukan apa di sini.

Tuhan...
Di mana aku harus mencariMu? Melihat wajahMu yang abadi?

Sepulang dari Makkah,  aku seperti orang gila mencari para kiai di masjid-masjid dan menjelajahi pesantren-pesantren besar.  Mencari di Google serta berjam-jam membaca tumpukan buku tentang ketuhanan. 

Aku jadi ingat sebuah film barat yang pernah aku tonton di tahun 90 an yang berjudul "Samson and Delilah"
Samson,  sang pencari Tuhan dianggap orang gila karena mencari Tuhannya,  tapi di film itu Samson tak menemukan Tuhan yang dicarinya hingga akhir hayat,  dia bahkan mati di pangkuan kekasihnya Delila. 

Pulang ke mana dia ketika sudah berada  di alam setelah kematian? siapa yang dia temui jika dia belum mengenal Tuhannya? Belum pernah bertemu Tuhannya?

Aku semakin setress memikirkan ini. 
Bagaimana nasibku juga?? 

Aku semakin tidak terkendali saat merasa sholat yang selama ini aku lakukan aku merasa hampa dan bahkan tak bisa memfokuskan pikiranku. Hatiku ke mana-mana, pikiranku juga entah ke mana? Aku sholat hanya ritual dan, hanya gerakan saja tanpa hati yang gamblang. Bukankah sholat itu harus berkomunikasi dengan Tuhan seakan melihat Tuhan sendiri?

Tapi kalau belum kenal Tuhan itu siapa, bagaimana membayangkan Tuhan itu? Dengan membayangkan ciptaan Tuhan? Yang mana? Bukankah semua yang ada di dunia dan akhirat ini ciptaanNya?

Aku tergugu sambil sujud. Ini baru rakaat ke 3 shalat Isya' ku. Aku tak sanggup meneruskan rakaat berikutnya. Sajadahku basah oleh air mata, merutuki diri mengapa aku tidak cuek saja seperti yang lainnya. Mereka bahkan tak perduli mereka menyembah untuk apa? Mereka tidak perduli saat meninggal besok siapa yang harus ditemui tanpa mengenal pemilik segala. Aku tak bisa cuek seperti itu. Aku takut. Takut matiku tersesat karena tak tahu harus pulang ke mana saat ragaku tak lagi terpakai?

Aku terisak dengan masih terisak, sampai sesak dadaku. Entah apa yang aku adukan kepada Tuhan. Aku menggigil.

Kurasakan sebuah tangan kokoh meraihku, mendudukkanku kemudian memelukku dalam dekapan.

"Sebenarnya, apa yang kau inginkan, istriku? Aku sama sekali belum bisa menembus hati dan pikiranmu. Kumohon berbagilah denganku. Agar aku bisa sedikit meringankan bebanmu"

Aku semakin terisak. Ini perjalanan spiritualku. Perjalanan hati yang gila mencari Tuhan. Karena yang kutahu perjalanan setiap orang berbeda-beda.
Tapi aku percaya, Tuhan akan membawaku ke sana, entah dengan cara apa aku akan dapat mengenal Sang Pemilik Jagad Raya.

Yulia Tanjung
19 September 2019

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Noda Pada Gadis Kecil Itu

Menulis adalah duniaku

Wisuda ODOP