Wajah-wajah penuh kepura-puraan menunduk
menampakkan kesedihan yang palsu. Mengerubung tubuh pria hebat yang sekarang duduk
lemas di atas kursi roda di depan halaman kamar VVIP sebuah rumah sakit
bertaraf internasional.
Sepasang
bibir Ayah mulai bergetar. ‘’Kematian terasa semakin dekat.’’
Sunyi
berkuasa sejenak. Desau angin dan serangga malam yang merintih kedinginan
melengkapi senyap.
‘’Aku
akan membagikan warisan sebelum aku mati agar nanti tidak ada perdebatan lagi.’’
Angin
yang berdesir tiba-tiba diam. Suasana lengang mengkhidmati wajah kami yang
tercengang. Mulanya aku mengira ucapan Ayah yang terdengar seperti syair itu
hanya bercanda belaka.
‘’Bercanda
memang bisa membuat orang awet muda, tapi toh kita akan tetap mati juga.’’ Ayah
tahu isi otakku.
‘’Ayah
akan sembuh,’’ ucapku lantang.
Kakakku yang lain seperti menertawakan
kenaifanku. Mereka mengira, aku sama. Berharap Tuhan mempercepat kematian ayah.
“Aku sudah membawa pengacara untuk
menjadi saksi.” Ayah sama sekali tak mendengar ucapan tulusku. Aku memang
sangat berharap kesembuhan ayah. Karena hidup bersama kedua kakakku yang egois
dan ibu tiri juga saudara tiri yang jahat dalam satu rumah tanpa ayah akan
seperti neraka saja.
Mengingat itu, aku mulai terisak.
Ayah menatapku penuh kasih dan
menepuk punggung tanganku yang sedari tadi memegang tiang infusnya.
“Adam sebagai anak tertua akan
mendapat hak penuh atas perusahaan properti ‘Jaya Kita’ beserta perumahan di
daerah Bogor, Raka berhak atas Rumah Sakit ‘Hati Kita’ dan tanah perkebunan di
puncak.”
Komentar
Posting Komentar