Menulis adalah duniaku


Lukislah Duniamu dengan Kata-kata

#OneDayOnePost
#ODOPBatch7
#KomunitasODOP

Menulislah yang kau katakan, dan katakan yang kau tulis. Aku mengenal ungkapan itu dari pengajar bahasa inggris di sebuah kursusan Pare Kediri. Miss Uun aku memanggilnya, yang sekarang sering menjadi teman berbagi dan diskusi tentang dunia literasi. Ungkapan lain yang pernah dia lontarkan. Jangan bermimpi menjadi penulis, tapi cukup tulis saja apa lakumu, maka kau akan merangkai dunia dengan tulisanmu.
Aku mencintai dunia menulis. Sejak kecil dikenalkan saudara-saudaraku tentang dunia tulis-menulis. Salah satu kakakku adalah cerpenis kawakan yang memiliki setumpuk buku kumpulan cerpennya. Dan dia adalah penulis idolaku yang pertama. Saat itu aku masih sangat kecil, baru bisa menulis dan membaca. Semua cerpen di majalah remaja yang kubaca tak bisa menandingi tulisan kakakku itu. Mungkin aku masih terlalu kecil untuk bisa menilai kala itu.

Dari situ aku mulai belajar menulis cerpen. Cerpen pertamaku berjudul "Tiada Lagi", aku menulisnya saat aku duduk kelas 3 SD, hehehe... Lucu, karena aku terinspirasi dari lagunya Mayangsari yang sedang booming di eranya. Ketahuan ya aku umur berapa sekarang? Wkwkwkw.

Dari cerpen pertama, banyak cerpen baru menyusul, sampai aku SMP. Karena SMP harus pindah ke Nganjuk, meninggalkan masa kecilku di sana, semakin banyak tulisan yang mengalir, buku harianku menjadi saksi bisu. Serasa tak ada yang bisa memahami perasaanku kala itu selain diary-ku. Eaaaa...

Di SMA, buku-buku cerpenku memiliki banyak penggemar. Mulai dari teman seangkatan, adik kelas dan kakak kelas. Saat itu aku bersekolah di Pondok Modern Sumber Daya At-Taqwa (POMOSDA), jadi kami berasrama dan buku-bukuku melintasi asrama satu ke asrama yang lainnya, dari tangan satu ke tangan-tangan lainnya. Sampai ludes, hilang dan tak kembali ke tanganku lagi. Andai saat itu aku bisa mengetiknya dalam sebuah file.

Ada satu buku tipis kumpulan cerpenku yang aku tulis setelah lulus SMA. Saat aku kursus di Pare Kediri yang masih tersisa. Hanya ada lima cerpen, bentuk bukunya juga sudah rapuh sekali. Dan aku berjanji tak akan menghilangkan buku itu. Kalau perlu akan aku bingkai indah dan kupajang di tempat khusus agar tetap ada untuk cerita anak cucuku kelak. Bahwa nenek moyangnya mencintai menulis dan bangga saat anak cucunya menggoreskan cerita hidup mereka juga nanti.

Aku sempat kehilangan jati diriku, begitu lama aku tersesat. Mencari sebenarnya apa aku dan siapa aku, apa yang ingin aku tuju? Aku mulai mencoba dunia baru. Belajar menjahit, memasak, craft, bisnis dan banyak yang lainnya. Rasanya aku haus belajar hal baru. Tapi aku akan berpindah saat bosan atau buntu hingga kemampuanku di sana hanya setengah-setengah. Hingga Guruku, Bapak Kyai Tanjung menyadarkanku bahwa tidak harus terlihat 'wah', tidak perlu terlihat lebih. Karena semua sama di mata Tuhan. Semua adalah pembelajaran. Semua adalah lakon. Menulis dan membaca adalah proses belajar yang luar biasa untuk menenggelamkan ego, keakuan, menghilangkan keinginan terlihat 'wah'. Itulah keajaiban menulis dan membaca yang diungkap Beliau.

Kemudian aku sadar, aku tak pernah berhenti mencintai menulis. Ini adalah duniaku. Dan aku kembali pada duniaku.

Aku memulai menulis lagi, setidaknya menulis kajian Beliau, Guruku, Bapak Kyai Tanjung. Aku tergila-gila dengan seratan/tulisan Beliau. Berawal dari sebuah doa berbahasa indonesia yang pernah Beliau tulis. Doa Fathul Zaman. Doa panjang yang Beliau tulis di tahun 2012. Kata-katanya menyihirku, maknanya sangat dalam dan mengguncang hati siapapun yang membaca. Aku tak pernah membaca kata-kata seindah doa itu seumur hidupku, sampai detik ini.

Tuhan membuka jalanku. Di tahun 2016 aku mulai menulis di blog. Blog lama yang sudah berdebu dan penuh sarang laba-kama yang mulai kukunjungi lagi. Menelorkan beberapa tulisan di sana. Yang kebanyakan berisi curhatan-curhatan yang seakan sebuah surat yang aku tujukan untuk Beliau, Guruku. Menulisnya, aku merasa sedang bercerita di depan Beliau. Dan itu menenangkanku.

Kemudian aku mulia mengenal komunitas-komunitas literasi yang semakin mengobarkan semangatku.

Ah... Dunia ini akan indah saat setiap penghuninya mengabadikan segala kehidupan manusia terangkai dalam sebuah tulisan yang dibaca setiap orang. Banyak pesan yang akan tersampaikan untuk generasi selanjutnya.

Sekarang aku seorang ibu dari seorang anak yang beranjak gadis. Aku tak menuntutnya untuk pintar, aku tak memaksanya untuk mahir segala hal. Aku hanya ingin dia menulis kehidupannya saat dia kecil hingga tua nanti dalam sebuah cerita yang akan dibaca anak cucunya kelak, seperti aku yang juga menuliskan kisah hidupku untuk warisan yang akan aku berikan kepadanya nanti, saat ragaku sudah tak terpakai lagi.

Komentar

  1. Emang bener, mb seharusnya emang kata2 itu membebaskan ^^.. tulisannya bagus mb..

    BalasHapus
  2. Wah..keren curhatannya mb yulia...

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Noda Pada Gadis Kecil Itu

Wisuda ODOP