Cerita semalam

Cerita semalam....

Tadi malam di daerah Brebek,
Bapak Kyai kami diminta untuk mengisi Pengajian tunggal oleh penduduk sana.

Sebenarnya kami juga berniat nderek juga ke Brebek, toh dekat aja. Yang jauh aja... kami, murid Beliau selalu turut serta, apalagi yang dekat situ ... Banyak dari kami yang berbondong-bondong ke sana...

Tapi karena suatu hal, kami sekeluarga tidak bisa ikut ke sana, kami hanya bisa mendengar lewat Radio.
Seluruh area Pondok menggemakan suara Bapak, melalui Radio Memory Fm...

Sekitar pukul delapan malam, suara Pak Surono sudah membuka acara, kemudian disusul beberapa iringan lagu dari marawis Ki Anom yang menyejukkan...

Anakku terlihat sedang menulis di buku hariannya, dan ibunya berkutat dengan jahitan yang belum selesai....

Pukul sembilan malam, adek mengajakku tidur...matanya merah menahan kantuk.
"Ayuuk mah...bobok!" Pintanya.

Kemudian aku menata tempat tidurnya. Kuminta dia membantu pasang seprei.
Dia membantu sekenanya. Rupanya kantuk sudah tak bisa ditahannya....

"Cerita ma..."
Pintanya seperti biasa...
"La itukan sambil dengerin pengajiannya Bapak, sama aja kayak cerita" tolakku halus...alibi ibunya menolak bercerita. Hehehe...
Kadang bingung harus cerita apa soalnya...karena tiap hari menjelang tidur, dia selalu nagih didongengin...

Dia tidak menolak.... Kemudian membelakangiku sambil memeluk gulingnya...

Kami berdua terdiam,
Mungkin dia sudah terlelap, sedang aku mencoba fokus dengan Dhawuh Beliau dari Radio.

Kemudian terdengar Bapak mengajukan sebuah pertanyaan pada penduduk di sana...
Bapak memang sering memberikan kami pertanyaan-pertanyaan pancingan, atau tebakan-tebakan ringan tentang paradigma beragama. Mengajak kami berfikir...

Tiba tiba adik membalikkan tubuhnya dan berujar.
"Bapak Kyai kok selalu kasih pertanyaan2 ya ma.. Ke kita?"
Aku kaget, rupanya belum tidur anakku...padahal matanya sudah merah..
"Pertanyaan gmn to dek?" Aku bertanya kembali padanya.
"Ya kayak gitu, Bapak ngasih pertanyaan, tebakan gitu...adek jadi muikir apa ya jawabannya? Tapi adik ga tahu, la suuulit eg..."

Aku terkekeh....
Rupanya dia juga menyimak dan hafal dengan 'gaya' Bapak Dhawuh di setiap pengajian.

Selama ini, disetiap pengajian, dia sering duduk di samping ibunya sambil menulis apa saja atau menggambar,mewarna atau bahkan tidur.
Ternyata, meskipun sepertinya dia tidak peduli, tapi Dhawuh itu tetap masuk di telinganya, dan dia akan mengingatnya, juga ikut memikirkannya....

Subhanallah...

Jadi ingat cerita Beliau, bahwa biarkan anak kecil mendengar apapun yang baik, katakan kebenaran pada anak kecil, bahkan meskipun dia tidak memahami penjelasan itu saat ini, tapi...yakinlah... Itu akan membawa dia mencari jawabannya kelak, saat dia dewasa...

Maka, jangan biarkan anak-anak kita melewatkan apa yang didhawuhkan Beliau, di setiap pengajian Beliau....
Sayang banget...
Karena itu adalah tiket yang mengantar anak kita mencari Sang Ahli, Sang Petunjuk Kebenaran, Sang Cahaya....
Sang Utusan di jaman dia dewasa kelak... Yang membawa dia menuju keselamatan...

ingat juga Bapak pernah memberi kami, para kawulanya sebuah pertanyaan.
"jika kamu berada dalam situasi di mana anakmu, atau keluarga dekatmu yang lain, sedang sakit bahkan mendekati ajal, dan kamu tidak mungkin bisa meninggalkan mereka? kemudian kamu sedang ditimbali Gurumu? Rasulmu? Mana yang harus kamu pilih?"

Saat itu kami terdiam....tidak tahu harus memilih yang mana?

Kemudian, dengan nada sedikit keras, Beliau menjawab
"maka pilih yang ke dua...datang ke Gurumu, Rasulmu...
Karena yang menjadikan anakmu, atau keluargamu yang sedang sekarat itu selamat, ya hanya UtusanNya...hanya Beliau yang bisa menyambungkan hamba dengan Tuhan..."

Wow.... Mak jleb....
Sungguh luar biasa....

Ah...Jadi ingat salah satu Dhawuh Bapak

Bahkan lautan apipun harus kau lewati untuk menuju Sang Petunjuk itu...
Maka carilah Dia... #Bapak Kyai Tanjung

Sebarkan kebaikan....
Di sekitar anda...

Komentar

  1. Terima kasih atas pelajarannya, _sedherek_ Sungguh, sebelum ini saya benar-benar tidak mengetahui Dhawuh Beliau tentang skala prioritas tersebut. Astaghfirullaah hal 'adhiim.. Sungguh saya tak layak menyandang predikat sebagai murid Beliau. Saya nantikan informasi dari _ring_ 1 berikutnya.. dalam kemasan tulisan molek tentunya.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Noda Pada Gadis Kecil Itu

Menulis adalah duniaku

Wisuda ODOP