Karena Kutahu

KARENA KUTAHU....!


28 November 2000
Aku melihatnya menangis lagi, entah sudah yang keberapa kalinya. Tuhan... apa yang telah aku perbuat hingga kesedihan selalu terbayang di matanya setiap melihatku?. Dan apa yang harus aku lakukan ??. Ingin sekali aku memeluknya, menyalurkan perasaanku bahwa aku teramat menyayanginya. Dan betapa inginnya aku mengurangi beban pikirannya. Tapi aku memang tak tahu apa yang harus aku lakukan, karena pusat kesedihannya adalah aku. Hanya aku yang dipikirkannya, aku tahu itu.

14 Februari 2001
Katanya hari ini adalah hari spesial, Valentine. Aku sekalipun tidak pernah merayakan hari aneh itu. Bukankah semua hari adalah hari kasih sayang ?? Ust. Rozak, guru ngajiku juga bilang begitu. Tapi aku terima juga kado kecil yang diberikannya padaku sepulangku dari ngaji tadi. Hari ini aku melihat senyum di bibirnya. Bahagia sekali melihat wajahnya yang berseri.

09 Agustus 2002
Aku tahu dia membenciku sekaligus teramat menyayangiku. Membenciku karena keadaanku yang selalu membuatnya bersedih dan menyayangiku karena akulah satu-satunya yang dimilikinya di sini. Hh....!! hari ini hari yang melelahkan, untukku juga untuknya.

30 Desember 2002
Assalamu’alaikum, dunia...!
Semoga hari ini aku memulai hariku dengan niatan yang benar dan semoga langkahku selalu DiRahmati oleh Tuhan. Juga langkahnya. Amin. Pagi ini aku terbangun karena adzan subuh yang terasa dekat sekali terdengar di telingaku. Dan aku melihatnya duduk bersimpuh di dalam surau yang tidak begitu jauh dari tempat kami tinggal, dengan mukenanya. Ketika aku mendekatinya, dia bersholawat lirih lengkap dengan isaknya. Aku bergidik mendengar suaranya. Ketika membuka matanya yang tadinya terpejam dan mendapatiku duduk di sampingnya, dia mengusap matanya dan tersenyum tulus sembari mengusap pipiku. Aku tahu saat itu dia menangis bukan karena sedih memikirkan aku, tapi karena rindunya pada Tuhan. Dan aku bahagia karenanya.
Sekarang sudah pukul 11 siang. Aku belum sarapan.

10 Februari 2003  
Tuhan.....!
Jangan biarkan dia pergi meninggalkanku sendirian di sini. Aku tidak akan bisa bertahan tanpanya.
Gusti.....!
Engkau pasti lebih tahu apa jadinya aku tanpanya.
Aku mendengar sebuah tempat yang pernah terbayang di benakku, terucap olehnya. Apa mungkin apa yang aku takutkan akan terjadi ??
Robb....!
Aku takut membayangkan, aku akan sendiri tanpanya.
Biar saja aku disiksanya seperti dulu asal dia tidak meninggalkanku sendiri.
Walau akhir-akhir ini sikapnya berubah, tapi aku tahu dia ingin meninggalkanku.

28 Juni 2003
Lebih baik dia marah dan menamparku dengan keras dari pada dia hanya diam dan menangisi kesalahanku dan aku sendiri tidak bisa melakukan apa-apa selain hanya diam dan ikut menangisi semuanya, sendiri. Aku hanya racun hidupnya, hama yang harus dibasmi dari kehidupannya. Kalau boleh memilih Tuhan....lebih baik aku tidak dilahirkan di dunia dari pada melihat kesedihan yang selalu terbayang di wajahnya selama hidupnya. Aku juga tidak ingin seperti ini, menyakitinya setiap saat. Aku ingin melihatnya bahagia. Dengan atau tanpa aku.      

10 Agustus 2003
Aku tahu semuanya. Mengapa dia selalu bersedih, menangisi hidupnya. Semua karena aku. Aku hanya mengingatkannya akan seseorang yang telah menghancurkan hidupnya. Aku pula yang membuatnya terusir dari dunia yang begitu dicintainya. Keluarganya. dan aku juga yang dulu pernah membuatnya ingin menghilang dari dunia. Seperti ada godam besar yang menonggok dadaku ketika mengetahui segalanya. Sudah cukup lama dia bersabar hidup di sampingku. Menemaniku sepanjang waktu. Gusti... aku rela dia pergi meninggalkanku demi kebahagiaannya. aku ikhlas hidup sendiri tanpanya. Aku  ingin yang terbaik untuknya. Dan semoga Engkau merahmati jalannya. Tuhan....sampaikan padanya aku menyayanginya lebih dari apapun, karena aku tidak pernah bisa mengucapkannya.

13 Agustus 2003
Aku hanya mengangguk saja ketika dia memberi pesan-pesan terakhir untukku. Sehari sebelum ditinggalkannya aku di tempat ini. Dipeluknya aku berulang kali dengan mata yang selalu basah. Aku tidak ingin di sini tanpanya. Tapi aku tidak tega melihatnya selalu dirundung duka yang tiada tara hidup bersamaku. Aku tidak bisa berucap apa-apa, aku juga tidak bisa menangis. Aku hanya ingin mendo’akan semoga dia bahagia. Aku tahu Tuhan selalu bersamanya.


Anakku....! Aku tidak pernah tahu dia mencurahkan segala perasaannya di buku hariannya. Ibu kepala panti asuhan yang memberikannya kepadaku setelah kutahu tidak ada jejak yang tertinggal. Dia pergi entah kemana. Mungkin mencariku. Dan aku tidak bisa merasakan apa-apa saat ini. Ada penyesalan yang tak bisa kuungkapakan, karena meninggalkannya di panti asuhan ini hanya demi menuruti keegoisanku. Anaku yang malang. Dia terlahir bisu, mungkin karena berulang kali aku ingin menggugurkannya ketika dalam perutku dulu. Berulang kali aku juga ingin memusnahkannya ketika masih bayi dulu. Entah sudah berapa kali aku mengusirnya ketika masih kecil dulu, padahal umurnya baru lima tahun. Aku memang tidak pernah menghendaki anak itu tumbuh dalam janinku. Usiaku baru 17 tahun ketika aku mengandungnya. Dan karena itu keluargaku mengusirku dan mencoret namaku dari silsilah keluarga. Padahal tadinya aku adalah anak emas di sana. Mereka tidak bisa menerima apapun alasanku, mereka tidak tahu betapa aku menanggung derita yang bukan kesalahanku. Aku hanya korban. Korban pemerkosaan dari orang yang tidak pernah aku kenal. Aku ingin mati saja saat itu. Sampai akhirnya anakku lahir. Aku menyambut kehadirannya dengan kebencian yang teramat sangat. Apalagi aku tahu dia cacat. Aku memperlakukannya seperti budak. Baju yang dikenakannya adalah pemberian dari tetangga yang mengasihinya. Samapi akhirnya aku melihat dia berjalan menuju surau dan shalat subuh. Padahal saat itu usianya baru 7 tahun. Aku melihatnya menangis sembari berusaha bersuara memohon kepada-Nya. Yang keluar hanya suaranya yang meraung tanpa kata yang muncul tapi sarat makna. Dia juga yang membuatku tahu Tuhan adalah segalanya. Anakku! Aku ingin mengucapkan segala penyesalanku, segala rasaku saat ini. Bahwa aku menyayanginya. Aku ingin memberinya kasih sayang yang tidak pernah ia rasakan dariku. Ibu kandungnya. Anakku yang tanpa sepengetahuanku belajar membaca dan menulis. Anakku yang selalu menginginkan kebahagiaanku. Anakku yang malang.
Akhirnya aku tahu seperti ini rasanya menderita. Lebih menderita dari pada saat ayah mengusirku dari rumah ketika tahu aku mengandung. Kali ini kesedihan itu lengkap dengan penyesalan yang tidak pernah berakhir sampai aku mati. Tuhan... aku tahu Kau Maha Adil, maka hukumlah aku yang telah meninggalkan anak kandungku sendiri di tempat yang tidak pernah dia inginkan. Jauh dariku. Ibu kandungnya...

                                     THE END

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Noda Pada Gadis Kecil Itu

Menulis adalah duniaku

Wisuda ODOP