Aku anak bungsu dari lima bersaudara. Dilahirkan dari pasangan sederhana yang menjunjung tinggi nilai agama karena keduanya memiliki background pondok pesantren. Karena anak bungsu, dan kakak-kakakku lebih dominan perempuan, aku tak pernah dituntut membantu pekerjaan rumah. Karena saat bangun di pagi hari, semuanya sudah beres oleh ibu dan kakak-kakakku. Maka tak heran aku tumbuh menjadi anak yang manja, pemalas dan ga genah kerjaan, serta memiliki respon, respek dan kepedulian yang kurang. Anak bungsu juga memiliki paling banyak kelemahan. Kalau kakak-kakakku berparas cantik, aku memiliki paras yg paling minim. Begitupun dengan kecerdasan, semua kakakku memiliki otak encer sedang aku dedel dan sulit diajarin. Kata orang, anak bungsu itu sisa-sisa dari anak sebelumnya. Jadi semua kekurangan tumpek blek ada padaku. Pemahaman itu sempat menjadi mental block-ku. Saat aku duduk di bangku sekolah dasar. Di MI satu-satunya di daerahku. Aku sering dibandingkan para guru dengan kehebatan ...